Talbiyah

talbiyah.jpg
Image: http://weheartit.com/entry/83007551

“Labayk Allahumma labayk. Labayka laa syariyka laka labayk. Innal hamda wa ni’mata laka wal mulk. Laa syariyka lak.” Bacaan talbiyah menggema di langit-langit bus karena tak satupun dari kami berdiam diri. Entah melafadzkan dengan suara jelas atau samar, kami semua sama-sama mengagungkan Tuhan Semesta Alam melalui bacaan talbiyah, “Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu tiada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya segala puji kenikmatan dan kerajaan hanyalah milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu.”

Perintah untuk talbiyah merupakan salah satu syariat bagi siapapun yang menuju Baitullah untuk umroh maupun haji. Dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan dari Zaid bin Khalid Al-Juhani, ketika rasulullah dan para sahabat telah berihram, beliau memerintahkan untuk bertalbiyah dengan suara keras (bagi laki-laki) dan syiir atau pelan (bagi wanita),

جَاءَنِي جِبْرِيلُ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ! مُرْ أَصْحَابَكَ فَلْيَرْفَعُوْا أَصْوَاتَهُمْ بِالتَّلْبِيَةِ فَإِنَّهَا مِنْ شِعَارِ الحَجِّ

“Jibril datang kepadaku lalu berkata: “Wahai Muhammad! Perintahkan para sahabatmu agar mengeraskan suara mereka ketika bertalbiyah, karena talbiyah termasuk dari syi’ar ibadah haji.””[1]

Setelah bertalbiyah beberapa kali, saya pun memulai obrolan ringan yang berkaitan dengan ibadah umroh. “Bapak ibu yang saya cintai karena Allah, kita semua telah berjanji setia pada Allah untuk menunaikan perintah-Nya. Bahkan kita menyambut seruan Tuhan Sekalian Alam dengan ucapan labayk.” Saya diam sebentar seraya memperhatikan apakah para jamaah telah siap mendengar.

Alhamdulillah mereka semua sudah siap mendengar; karena tidak ada gunanya berbicara sementara para audience tidak siap menimak. “labayk merupakan jawaban yang teramat santun, semacam kulan atau kah dalam bahasa Sunda. Sebagian orang Betawi sendiri masih ada yang menggunakan istilah labayk ketika dipanggil orang yang lebih tua. “Bayk mak” atau “bek mak”. Apabila terhadap orang yang dituakan saja kita harus santun, apalagi pada Allah yang menciptakan, menjaga, serta memberi rizki.”

Satu hal yang perlu ditanamkan pada para jamaah adalah pentingnya mentauhidkan Allah; bukan sekedar tata cara manasik. Manasik memang penting namun tanpa adanya upaya menanamkan tauhid di hati para jamaah maka dalil seshahih apapun baik dari Al-Qur’an maupun hadits biasanya akan diabaikan begitu saja. Rasul sendiri telah bersabda dalam banyak hadits mengenai pentingnya mencontoh beliau dalam pelaksanaan umroh maupun haji. Salah satu sabda beliau adalah,

لِتَأْخُذُوْا مَنَاسِكَكُمِ

“Ambillah dariku tentang tatacara manasik (haji/umroh) kalian.”[2]

Barangkali ada yang bertanya-tanya, kenapa pula kita harus mengikuti tata cara umroh atau haji rasul? Kenapa tidak kita buat versi kita sendiri saja? Bukankah perbedaan adalah rahmat?

Alasan mengapa kita meneladani rasulullah dalam ibadah adalah karena beliau seorang utusan Allah yang ditugaskan memberi kabar gembira maupun ancaman siksa bagi seluruh manusia dan jin.[3]Adapun alasan kenapa harus mencontoh kehidupan beliau secara umum dan tata cara beribadah beliau secara khusus adalah karena Allah memerintahkan kita di banyak ayat seperti Ali Imron ayat 31 dan 102 serta Al-Ahzab ayat 21 dan 70-71). Mematuhi perintah rasul sama artinya mematuhi pihak yang mengutus beliau yaitu Allah. Sebaliknya, membangkang atau melecehkan perintah rasul sama saja menghina yang mengutus beliau, yaitu Allah.

Lalu bagaimana dengan hadits yang mengatakan perbedaan adalah rahmat? Kalau segala sesuatu harus mencontoh rasul maka hadits tadi tidak bisa digunakan dong? Setelah diteliti oleh para pakar hadits seperti Syaikh Nasiruddin Al-Albani ternyata ungkapan tersebut tidak berasal dari rasulullah; maka tidak dapat diamalkan terutama dalam urusan ibadah. Sebaliknya, Allah justru berfirman dalam banyak ayat bahwasanya perselisihan justru akan mengundang kerusakan dan kehancuran. Kita dapat menemukan keterangan ini di surat Al-Anfal ayat 46, Ar-Rum ayat 31-32, serta Hud ayat 118-119.

“Hal berikutnya yang harus kita perhatikan dalam ibadah adalah keikhlasan. Yaitu mengerjakan umroh dan ibadah-ibadah lain dengan niat yang satu. Yaitu hanya mengharap ridho dan balasan dari Allah saja. Bukankah ketika melafadzkan niat umroh kita mengatakan Allahuma hadzihi umrotan laa riya’a fiyha wa laa sum’ah? Ya Allah, tiada niat untuk ditonton orang dalam umroh ini dan tiada niat pula untuk didengar orang?”

Dokter Keiko bertanya, “Sum’ah itu apa?”

“Sum’ah itu berasal dari kata sama’ yang artinya mendengar. Jadi sum’ah itu seseorang ingin ibadahnya didengar oleh orang lain. Kalau riya’ itu ingin dilihat orang lain.”

Memang sudah menjadi kewajiban bagi tiap manusia untuk mengikhlaskan niatnya dalam ibadah semata-mata untuk mengharap ridho Allah. Bukankah Ia berfirman dalam surat Al-Bawarah ayat 265,

وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَتَثْبِيتًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِن لَّمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.”

*****

[1] Shahih. HR. Ibnu Majah (2923), Ibnu Hibban (no. 974-Mawaariduz zham’aan), Al-Hakim (I/450) dan Ahmad (V/192). Dishahihkan oleh Al-Hakim dan Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Haadits Ash-Shahiihah.

[2] Shahih. HR. Muslim (no. 1297 {310})

[3] Terdapat banyak sekali ayat yang mengabarkan berita yang satu ini, antara lain Al-Anbiya ayat 107, Saba’ ayat 28, serta Al-Ahzab ayat 40.

English

Latin

2 Comments Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s