Miqat di Dzul Hulaifah

dzul hulaifah.JPG
Image: http://studentofbutterfly.blogspot.co.id/2016/01/a-quick-trip-over-outer-medina.html

“Psssssss” Desis angin terdengar bersama terbukanya pintu bus. Sambil tesenyum ramah, Musa mempersilakan kami untuk turun mengambil miqot.

Alhamdulillah kami tiba di Dzul Hulaifah yang merupakan tempat miqot penduduk Madinah serta orang-orang asing yang berangkat menuju Mekkah melewatinya. Tempat  ini terletak di sebuah wadi atau lembah bernama Dzul Hulaifah sedang  masjidnya dinamakan Masjid Miqot. Akan tetapi entah kenapa kebanyakan orang lebih mengenalnya sebagai Bir Ali atau Telaga Ali.

Rasulullah bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَّتَ ِلأَهْلِ الْمَدِينَةِ ذَا الْحُلَيْفَةِ، وَ لأَهْلِ الشَّامِ الْجُحْفَةَ، وَ ِلأَهْلِ نَجْدٍ قَرْنَ الْمَنَازِلِ، وَ ِلأَهْلِ الْيَمَنِ يَلَمْلَمَ، وَقَالَ: هُنَّ لَهُنَّ وَلِمَنْ أَتَى عَلَيْهِنَّ مِنْ غَيْرِِهِنَّ مِمَّنْ أَرَادَ الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ، وَمَنْ كَانَ دُوْنَ ذَلِكَ فَمِنْ حَيْثُ أَنْشَأَ، حَتَّى أَهْلُ مَكَّةَ مِنْ مَكَّةَ.

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menentukan miqat bagi penduduk Madinah, yaitu Dzul Hulaifah, bagi penduduk Syam, yaitu Juhfah, bagi penduduk Najd, yaitu Qarnul Manazil dan untuk penduduk Yaman, yaitu Yalamlam. Beliau mengatakan, ‘Semua itu adalah bagi penduduk kota-kota tersebut dan orang yang bukan penduduk kota-kota tersebut yang melewati kota-kota tersebut, yang ingin menunaikan ibadah haji dan umrah. Dan bagi orang yang lebih dekat dari kota-kota itu, maka ia memulai ihram dari tempatnya, sampai penduduk Makkah memulai ihram dari Makkah.”

Baru saja kami menapakkan kaki ke pavling blok warna abu-abu, terdengarlah kumandang adzan dari sebuah menara putih, “Allah Akbar, Allah Akbar.” Rupanya waktu ashar telah tiba. Untungnya kami telah menjamak sekaligus mengqoshor sholat dzuhur dan ashar di Masjid Nabawi. Kami semua pun telah mengenakan pakaian ihrom yang terdiri dari dua helai kai putih mirip handuk untuk kaum pria. Adapun untuk kaum wanita, tidak ada pakaian atau warna khusus; yang penting menutupi seluruh bagian tubuh kecuali wajah dan pergelangan tangan. Meski tak perlu lagi mengikuti sholat ashar namun bukan berarti kedatangan kami tanpa tujuan. Sebaliknya, para muhrim (orang yang telah berihrom) dianjurkan untuk sholat sunnah dua rakaat di lembah yang diberkahi ini sebagaimana pernah dicontohkan oleh rasulullah,

أَتَانِيْ الَّليْلَةَ آتٍ مِنْ رَبِّيْ فَقَالَ : صَلِّ فَىْ هَذَا الْوَادِىْ الْمُبَارَكِ وَقُلْ عُمْرَةً فِىْ حَجَّةٍ

“Tadi malam utusan dari Rabbku telah datang lalu berkata: “Shalatlah di Wadi (lembah) yang diberkahi ini dan katakan: “Umrotan fi hajjatin.”[1]

Demi menghindari tercecernya rombongan di areal parkir yang luar biasa padat, jamaah wanita dan pria pun kami pisah. Saya dan jamaah pria berangkat lebih dahulu sementara Wahyudi memimpin jamaah wanita.

Untuk menuju pelataran masjid kami harus berenang melewati lautan manusia baik yang hendak masuk ke masjid maupun yang hendak keluar. Melewati sebuah gerbang yang dihiasi kubang melengkung kami pun berjalan melalui sebuah koridor yang disebelah kirinya berjejer toko-toko makanan ringan maupun perlengkapan umroh. Roti-roti dibariskan di keranjang sementara porter sibuk mengangkut dus-dus air mineral ke dalam bus. Kain-kain ihram digantung di atap toko sementara disisi-sisinya tergantung pula sabuk ihram berwarna putih atau hijau.

Begitu kami tiba di pelataran masjid yang dihiasi taman-taman kecil serta pancuran air minum; terdengar suara orang bersholawat. Tak lama kemudian muncul seorang kakek yang melantunkan sholawat menggunakan pengeras suara. Di belakang si kakek sebuah barisan panjang orang Libya berjalan dengan gagah bak tentara. Baik pria maupun wanitanya bertubuh tinggi, berkulit putih, serta memiliki bola mata hijau atau biru.

Ketika rombongan Libya berlalu kami pun melanjutkan perjalanan. Sebagian jamaah menuju toilet untuk buang air kecil atau memperbarui wudhu. Ketika semua jamaah telah berkumpul, kami masuk ke dalam masjid yang interiornya mirip taman istana. Dimana-mana terdapat taman yang dihiasi pepohonan hijau nan teduh. Bila tidak melihat karpet merah yang empuk dan wangi mungkin kami lupa tengah berada di tengah masjid.

Sungguh indah tempat yang berjarak 12 km dari Masjid Nabawi ini. Pertama kali dibangun oleh Umar bin Abdul Aziz tahun 87 H/706 M, masjid ini telah melalui beberapa rangkaian renovasi hingga saat ini. Terdiri dari dua koridor yang dibatasi teras panjang penuh pepohonan, tiang-tiang putih yang disambung kubah lengkung seolah mengingatkan kita pada Istana Alhambra di Spanyol. Meski memiliki banyak pintu namun bukan berarti kita dapat berjalan sembarangan disini karena ada kemungkinan tersasar.

Ketika semua jamaah pria telah berkumpul kami pun kembali ke bus. Apabila sebelumnya kami berjumpa saudara seiman dari Libya, kali ini kami bersua rombongan Belanda. Mereka berfoto dengan penuh kegembiraan sementara sebuah mengibarkan bendera kecil warna merah putih dan biru berkibar tertiup angin.

Kebahagiaan terpancar jelas dari wajah mereka, seolah hendak berkata, “Islam tumbuh subur di Netherland.”

Ada yang unik dari para meneer beragama Islam ini. Hampir seluruh kaum prianya baik tua maupun muda menampakan ciri Maroko; kulit kecoklatan dan rambut hitam. Adapun kebanyakan kaum wanitanya justru kental sekali ciri Eropanya; mata biru, kulit putih yang menjadi merah karena terbakar sinar matahari, serta rambut pirang yang menyembul dari balik jilbab. Saya menduga mereka orang-orang Eropa asli yang masuk Islam.

Tak lama kemudian kami tiba kembali di bus. Rupanya Wahyudi dan kaum wanita belum ada yang nampak satupun. Disitu hanya ada Musa, supir kami yang berasal dari Sudan. Ia bertanya, “Tamam? Sudah lengkap.”

“Baru laki-laki saja.” Jawab saya.

Musa tersenyum lalu kembali membaca surat Al-Kahfi.

[1] HR. Al-Bukhari dari sahabat Ibnu Umar.

English

Latin

2 Comments Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s