Museum Rel Kereta Api Hijaz

museum kereta api hijaz.jpg
Image: https://13martyrs.wordpress.com/hejaz-railway-museum-madinah-images/

Subhi menyalakan mesin mobil dan tak lama kemudian kami sudah meluncur keluar dari parkir basement Masjid Nabawi. Tujuan kami adalah sebuah bangunan bergaya Eropa berwarna krem yang dikelilingi pagar besi tinggi warna hitam. Bangunan yang satu ini tampak mencolok karena berbeda betul dengan bangunan-bangunan lain yang umumnya berbentuk persegi serta berwarna putih.

Sesampainya disana, saya dan Subhi menyusuri bagian dalam gedung bertingkat dua itu untuk melihat beberapa peninggalan sejarah Madinah pada masa pemerintahan Daulah Utsmani. Banyak sekali lukisan kota Madinah tahun 1800an yang masih memiliki pagar pertahanan serta menara-menara meriam. Pada lukisan-lukisan berwarna kekuningan itu pun kita bisa memandang landscape kota maupun Masjid Nabawi tempo dulu. Tak perlu heran bila museum ini menyimpan banyak sekali kenangan bertema Turki Utsmani karena dahulu mereka pernah berkuasa di Hijaz. Dan bagunan yang kami kunjungi ini pun awalnya  satu dari sekian banyak stasiun kereta api yang jalurnya membentang hingga Istanbul Turki.

Keberadaan jalur kereta api yang dikenal dengan nama Jalur Kereta Hijaz ini merupakan bukti kepedulian Daulah Utsmani terhadap umat Islam. Jamaah haji yang berangkat dari Turki, Suriah, atau Jordan dapat menyingkat waktu perjalanan dibanding berangkat menggunakan kuda atau unta. Selain untuk melayani jamaah haji, stasiun ini juga memudahkan pengiriman tentara Utsmani yang wilayah kekuasaannya membentang luas. Dalam perang dunia pertama rel kereta ini memainkan peran penting menahan laju pasukan Inggris dan Perancis yang hendak menguasai Syam (Suriah, Lebanon, Palestina, dan Jordan). Mereka baru bisa bergerak bebas setelah seorang agen Inggris bernama T.E Lawrence mendidik orang-orang Arab Badui cara meledakkan rel kereta api menggunakan dinamit.

Setelah puas menjelajahi ruang dalam, saya dan Subhi pindah ke halaman museum yang masih menyimpan peron penumpang, rel kereta, gerbong-gerbong berdinding kayu, dan tentu saja lokomotif-lokomotif hitam yang menggunakan tenaga uap. Saya membayangkan beratnya kerja masinis tempo dulu mengemudikan mesin bernama ini. Sementara seorang masinis memegang kemudi dan fokus pada jalanan, rekannya ‘dengan senang hati’ menyekop gundukan demi gundukan batu bara hitam ke dalam tungku pembakaran.

English

Latin

2 Comments Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s