Ziarah ke Makam Baqi

baqi2
Image: http://news.liputan6.com/read/2574757/baqi-makam-di-madinah-yang-spesial-di-hati-nabi

“Zai!” teriak seorang askar tambun berkacamata hitam.

“Oh ada yang dipanggil.” Batin saya. Zai adalah sapaan dalam bahasa Pashto yang setara dengan “mas”. “Kira-kira siapa ya yang dipanggil?” rasa penasaran melintas di benak meski mata terus tertuju pada gerbang makam Baqi yang tinggi dan berwarna hijau keabuan.

“Zai! Zai!” teriakan si askar semakin keras. Nampaknya ia mulai hilang kesabaran. Tapi saya tak mau ambil pusing. Daripada ikut campur urusan orang lebih baik menikmati udara pagi yang menemani kehadiran sang surya. Burung-burung berkicau dan kicauan si askar juga semakin kencang, “Zai! Zai!”

Tiba-tiba seorang kakek Pakistani mencolek bahu saya sembari menunjuk si askar yang tampak demikian jengkel. “Subhanallah, rupanya saya yang dipanggil.”

Saya pun mendekat dan ia menyuruh saya membuka tas. Setelah yakin tidak ada benda-benda terlarang seperti senjata maka ia pun membiarkan saya berjalan kembali. Setelah menengok ke kanan dan ke kiri, ke depan serta ke belakang barulah saya paham; 99% peziarah yang berada di sekitar saya memiliki ciri fisik yang sama. Tinggi, berhidung mancung, bermata indah, janggut panjang, dan kepala yang digundul sebagai tanda selesai umroh. Pakaiannya pun rata-rata sama, gamis yang menutupi bokong dan celana panjang. Tidak lupa peci yang menempel di kepala.

Entah harus bangga atau tidak namun sepertinya pagi itu sayalah satu-satunya orang Indonesia sementara para zai tersebut berasal dari Afghanistan, India, Pakistan, serta Bangladesh. Setelah mengamati gamis putih yang saya kenakan, rasa geli pun tak bisa ditahan lagi. Jadilah saya senyum-senyum sendiri membayangkan apa yang baru saja terjadi. Wajar saja bila si askar memanggil saya “zai” dan bukannya “tuan” atau “bapak”; karena pakaian yang saya kenakan mirip orang Pakistan. Bahkan orang-orang Pakistan, Afghanistan, dan India sering menyapa saya menggunakan bahasa Urdu, Pashtun, atau Hindi karena menyangka saya sebangsa dengan mereka.

Setelah melewati beberapa askar yang bersender di pagar, saya dan para zai pun masuk ke makam Baqi. Di depan kami berdiri tegak empat buah papan pengumuman besar warna biru yang berisi adab-adab ziarah kubur dan larangannya. Poin-poin tersebut ditulis dalam bahasa Arab, Melayu, Perancis, dan Urdu. Sebagian zai sibuk membaca sementara yang lain berjalan dalam antrean pelan menuju bagian dalam makam.

“Zai!!!” teriak seorang askar muda ketika tiga orang Pakistan berusaha menginjak tanah makam. Ketiga orang itu langsung kembali ke jalan setapak sambil tertunduk malu. Memang disana terdapat peraturan bahwa para peziarah hanya boleh berjalan di jalan setapak yang dilapisi konblok abu-abu. Mereka dilarang keras turun ke areal makam yang semuanya berada diatas tanah pasir warna kuning keabu-abuan.

Baqi merupakan areal pemakaman umat Islam yang pertama kali dan ditempat inilah dikebumikan 10.000 orang sahabat yang diantaranya seluruh istri rasulullah kecuali Ummul Mukminin Khadijah dan Maimunah. Disini dimakamkan pula seluruh putri rasulullah termasuk Fathimah serta putra beliau yang bernama Ibrahim. Paman beliau Al-Abbas dan bibi beliau yang bernama Shafiyah juga dimakamkan disini. Cucu kesayangan beliau, Al-Hassan bin Ali dan menantu beliau yang juga salah satu orang yang dijamin masuk surga, Utsman bin Affan juga dikebumikan disini.

Saya mengucapkan salam pada penghuni kubur serta mendoakan mereka. Saya juga teringat tentang pria Afrika yang wafat saat sholat subuh beberapa hari lalu; in sya’ Allah ia pun telah menjadi penghuni makam Baqi karena memang tiap orang yang wafat di Madinah (terutama di Nabawi) dikubur disini.

Ziarah kubur sendiri merupakan sebuah kegiatan yang dianjurkan oleh rasulullah agar kita menyadari bahwa kehidupan di dunia tak akan abadi dan kematian datang tanpa permisi. Beliau bersabda,

ِنِّي كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمْ الْآخِرَةَ

“Dulu aku melarang kalian ziarah kubur. Sekarang, kunjungilah karena mengingatkan kalian kepada akhirat.”[1]

Mulanya rasulullah melarang umat Islam untuk berziarah kubur karena kebanyakan diantara para sahabat kala itu imannya belum kuat. Masih besar kemungkinan bagi mereka untuk kembali pada kebiasaan jahiliyah seperti memohon rezeki dan perlindungan pada penghuni kubur. Di kemudian hari ketika para sahabat telah kuat keimanannya, rasulullah pun menganjurkan mereka untuk berziarah kubur. Kita juga diizinkan untuk berziarah kubur namun tidak boleh sering-sering apalagi sampai ‘ngalap berkah’ karena perbuatan itu termasuk kesyirikan.

Selesai berziarah saya pun meninggalkan areal makam yang seluruh kuburnya hanya berupa gundukan tanah yang ditandai batu cadas yang tidak dihaluskan sebagai nisan. Tidak ada yang tahu siapa yang dikubur dibawahnya karena pada tiap nisan tidak dicantumkan nama sang penghuni kubur. “Alhamdulillah, akhirnya saya sempat ziarah kubur Baqi.” Saya merasa lega karena siang nanti sudah harus mengambil miqot di Dzul Hulaifah.

Bila anda ingin berziarah ke Makam Baqi maka berangkatlah setelah sholat subuh atau ashar di Masjid Nabawi. Dan hanya kaum pria yang diizinkan masuk. In sya’ Allah mulai Oktober nanti kita sudah bisa berziarah ke Masjid Nabawi dan dilanjutkan ke Baqi. Siapkan paspor dan pastikan nama anda terdiri dari tiga kata, misalnya: Ryan Mayer Tama. Ditunggu ya.

[1] HR. Muslim, an-Nasâi, dan Ahmad.

English

Latin

2 Comments Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s