Peternakan Unta

camel ranch
Image: http://www.npr.org/sections/health-shots/2014/06/04/318851265/the-camel-did-it-scientists-nail-down-source-of-middle-east-virus

kami berjalan disamping danau putih kehijaun. Rumput-rumput hijau pendek seakan tak terganggu teriknya musim panas. Sebuah pintu air warna abu-abu mengingatkan saya pada kota Kudus, hanya saja disini agak sulit untuk mendapatkan soto.

Di persimpangan jalan pemandangan pun berubah. Yang ada kini hanyalah hamparan padang pasir putih kemerahan yang dipayungi tiang-tiang listrik raksasa. Tepat dibawah tiang-tiang itu membentang pagar kawat sejauh mata memandang sementara didalamnya gerombolan unta memandang tak acuh.

Kami berhenti di tempat yang mirip penampungan barang bekas. Tenda-tenda hitam dan coklat kumal bersanding dengan bedeng-bedeng kecil beratap seng serta berdinding kardus atau pelepah kurma. Sofa-sofa butut yang penuh lubang disusun serapi mungkin di bawah birunya langit. Tidak jauh dari sana kawanan unta bertampang angkuh memperhatikan bus merah yang berhenti di halaman mereka.

“Marhaban.” Sambut seorang pria Afrika tinggi besar bergamis biru.

“Assalamualaikum ya Amiy (wahai pamanku),” balas saya.

“Wa alaikumus salaam ya habibi (kesayanganku)” Ia tersenyum seraya mempersilakan kami duduk dekat sebuah meja kayu yang diatasnya terdapat nampan abu-abu besar dan beberapa botol air mineral. Seolah tak cukup dengan itu semua, ia pun memerintahkan seorang Afrika lain yang lebih muda untuk masuk ke kandang unta. Si pemuda lalu berlari-lari membuka pagar kandang sementara di tangan kanannya tergantung sebuah nampan. Beberapa saat kemudian ia sudah asyik memerah susu seekor unta betina warna kelabu persis di sebelah anak unta yang menatap tidak senang.

Tak lama kemudian si pemuda kembali sambil menenteng senampan penuh susu unta putih kecoklatan. Aromanya mirip susu kambing sedangkan buih-buih yang menari diatas susu mengingatkan saya pada krim cukur. Para jamaah tersenyum-senyum, terlihat sekali ingin mencoba namun tidak ingin menjadi yang pertama. Saya paham mereka ingin saya memberi contoh.

“Ya Am, haatiy waahid. Wahai paman, tolong beri saya satu gelas.”

Dengan semangat ia menyendok secangkir susu lalu menyodorkannya di hadapan kami. Jamaah menonton saya menenggak habis susu itu lalu menggosok-gosokan busanya ke wajah. “In sya Allah bisa menghaluskan kulit ibu.”

Merasa yakin bahwa susu unta tidak membunuh saya, para jamaah pun berlomba memesan, ada yang satu botol dan ada yang dua. Sementara tangan para jamaah mengibaskan pecahan sepuluh real si paman tertawa lepas. Kegembiraan terpancar di wajahnya.

Di surat Al-Ghasiyah ayat 17 Allah menantang manusia -terutama mereka yang membangkang dari perintahnya- untuk memperhatikan dan meneliti unta,

أَفَلاَ تَنْظُرُوْنَ إلَى الاِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ

“Apakah engkau tidak memperhatikan bagaimana unta diciptakan?”

Para ilmuwan yang meneliti unta mendapati hewan satu ini diberkahi banyak hal luar biasa seperti mata yang memiliki lapisan khusus yang tahan terhadap badai gurun. Bibir dan lidahnya demikian tebal hingga mampu mengunyah semak berduri atau kaktus. Dalam sehari unta mampu berjalan sambil mengangkut beban berat sejauh 50 hingga 60 km di padang pasir yang panas. Unta mampu tidak minum beberapa hari karena memiliki tangki cadangan air di punuknya. Unta juga diberkahi penciuman yang mampu meneliti keberadaan air di bawah tanah. Itulah beberapa dari sekian banyak kehebatan unta.

*****

English

Espanol

2 Comments Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s