Masjid Khandaq

khandaq masjid.jpg
Image: https://www.flickr.com/photos/umar/4912788011

Sekitar satu kilometer dari Masjid Qiblatain kami berhenti karena lampu lintas menunjukan warna merah. Saya pun segera menunjukan sebuah tempat bersejarah, “Bapak ibu sekalian, yang ada di depan kita adalah Masjid Khandaq.” Sebuah bangunan besar warna putih berdiri tegak bak seorang ksatria berzirah. Di belakangnya Gunung Sa’la yang berwarna coklat sementara di kedua sisinya terdapat bangunan-bangunan mungil berbentuk kotak yang merupakan masjid-masjid kecil. Para jamaah pun memandang dengan antusias, mirip kawanan serigala kelaparan mendapati tumpukan daging segar. Dan seperti biasa Bu Anis bertanya, “Bagaimana sejarahnya pak?”

“Dahulu rasulullah dan para sahabat menggali parit pertahanan untuk mencegah pasukan koalisi Quraisy dan sekutu-sekutunya mendekati kota Madinah.” Jamaah menyimak dengan antusias. “Maka Salman Al-Farisi pun menyarankan sebuah strategi perang bangsa Persia, sebuah strategi yang belum popular di kalangan bangsa Arab kala itu.”

Suku-suku Arab sendiri biasa berperang dengan menunggang unta atau kuda di tanah lapang yang luas tetapi jarang mengepung benteng menggunakan alat-alat berat seperti ketapel raksasa atau menara dorong. Maka begitu orang-orang Quraisy dan sekutu mendekati kota mereka heran mendapati parit luas dan dalam yang dijaga pasukan muslim, “Apabila mereka melompati parit maka akan dipukul dengan pedang atau tombak, sedangkan apabila masuk parit maka akan dipanah.”

Perang Khandaq atau Perang Al-Ahzab terjadi pada bulan Dzulqa’dah tahun 5 Hijriyah. Beda halnya dengan Perang Badar atau Uhud yang hanya melibatkan Quraisy Mekkah; perang kali ini melibatkan pula koalisi suku-suku Arab seperti Banu Sulaim, Banu Asad, Banu Fizarah, Bani Asyja’, dan yang paling kuat diantara mereka Banu Ghatafan. Pasukan yang bersekutu ini disebut Al-Ahzab atau Aliansi. Demikian besarnya jumlah kekuatan mereka hingga rasulullah pun memutuskan untuk menerapkan strategi parit yang diusulkan Salman.

Keadaan menjadi semakin buruk setelah Yahudi Banu Quraizhah yang tinggal di dalam kota Madinah berkhianat. Orang-orang munafik pimpinan Abdullah bin Ubay pun tidak mau kalah. Mereka membuat moral kaum muslim jatuh dengan menyebarkan berbagai rumor seperti Madinah akan jatuh ke tangan musuh atau Allah tidak akan menolong mereka.  Kelak setelah pasukan koalisi membubarkan diri karena diserang badai yang dikirim oleh Allah, Banu Quraizhah pun diperangi dan para pria dan wanita dewasanya dijatuhi hukuman mati akibat pengkhianatan. Adapun Abdullah bin Ubay dan kawan-kawannya, kejahatan mereka terbongkar dan rasulullah serta para sahabatnya mengetahui jati diri mereka yang sebenarnya.

Masjid Khandaq sendiri bernama asli Masjid Fath. Pertama kali dibangun oleh Umar Bin Abdul Aziz ditempat yang dulunya rasulullah menggali parit pertahanan. Lalu kenapa disebut Masjid Sab’ah atau Masjid Tujuh? Karena selain Masjid Fath, terdapat enam buah masjid kecil yang lebih dulu dibangun yaitu Masjid Salman, Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq, Masjid Umar bin Khattab, Masjid Ali bin Abi Thalib, Masjid Fatimah, dan Masjid Saad bin Muadz.

English

Espanol

2 Comments Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s