Masjid Quba

masjid-quba.jpg
Image: https://www.tripadvisor.ie/LocationPhotoDirectLink-g298551-d2649200-i237071220-Quba_Mosque-Medina_Al_Madinah_Province.html

Perjalanan menuju Masjid Quba’ Diisi dengan tausiyah singkat mengenai sejarah dan keutamaannya. Jamaah nampak memperhatikan dengan antusias, terutama Bu Anis dan Pak Oni yang duduk di bangku paling depan. Bu Anis yang akademis menggunakan kesempatan untuk memberondong pertanyaan, “Kapan masjid itu dibangun?”, “Apa saja keutamaannya?”, “Apa niat sholat sunnah disana?” dan lain-lain.

Masjid Quba sendiri merupakan tempat ibadah yang pertama kali dibangun oleh Rasulullah, tepatnya ketika beliau berhijrah ke Madinah. Saat itu beliau singgah di kampung Quba yang berada beberapa kilometer dari pusat kota Madinah dan disambut dengan penuh penghormatan oleh penduduknya. Beliau dan Abu Bakar Ash-Shiddiq membangun sebuah masjid sederhana di kampung tersebut, dimana baginda turun tangan langsung dalam pengerjaannya. Ketika beliau tiba di Madinah barulah diadakan pembangunan Masjid Nabawi yang letaknya ditentukan berdasarkan dimana unta beliau berhenti. Sementara pembangunan Masjid Nabawi berlangsung beliau tinggal di rumah keluarga Abu Ayyub Al-Anshori yang wafat di Constantinople.

Selesai pembangunan rasul pun tinggal di rumah yang berhadapan dengan masjid. Meskipun demikian, beliau tidak melupakan Masjid Quba dan biasa mengunjunginya setiap hari sabtu. Sahabat Abdullah bin Umar bin Khattab meriwatkan sebuah hadits mengenai kebiasaan rasul ini,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي مَسْجِدَ قُبَاءٍ كُلَّ سَبْتٍ، مَاشِيًا وَرَاكِبًا فَيُصَلِّي فِيْهِ رَكْعَتَيْنِ

“Dahulu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi Masjid Quba setiap hari Sabtu dengan berjalan kaki atau berkendaraan kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dua rakaat”. (HR. Muslim)[1]

 

Keutamaan Masjid Quba

Terdapat sebuah alasan mengapa para peziarah dianjurkan untuk mengunjungi masjid ini. Rasulullah bersabda,

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ أَتَى مَسْجِدَ قُبَاءَ، فَصَلَّى فِيهِ صَلَاةً، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ عُمْرَةٍ

Barangsiapa bersuci di rumahnya kemudian datang ke Masjid Quba’, kemudian dia mendirikan shalat di sana, maka dia mendapatkan pahala umrah.[2]

Tak lama kemudian kami tiba di Masjid Quba. Belum lagi semua jamaah turun, seorang pemuda Arab berkacamata hitam  bertanya, “Sudah beli air dan snack belum?”

“Kamu tanya muthowwif saya.” Kata saya seraya menunjuk Wahyudi yang baru saja turun dari pintu belakang. Saya tidak bermaksud untuk melepas atau melempar tanggung jawab, namun salah satu tugas seorang muthowwif adalah menyediakan konsumsi city tour. Apabila kita berinisiatif tanpa koordinasi dengan muthowwif, justru mereka yang akan ditegur atasan.

Kami pun bersama-sama menuju pintu masuk masjid yang dipadati ratusan manusia bahkan lebih. Dalam perjalanan kami pun harus berhati-hati karena banyak sekali bus yang tiba sementara jalanan menjadi sempit karena sudah lebih banyak lagi bus yang sedang parkir. Hal lain yang membuat perjalanan menuju pintu masuk masjid semakin jauh adalah karena ada saja sebagian jamaah yang di tengah jalan berhenti untuk membeli kurma atau kacang bahkan delima. “Bu, Nanti saja belinya, sholat dulu.”

Mendekati pintu masjid, Wahyudi memberi pengarahan singkat, “Bapak ibu sekalian, setengah jam lagi kita berkumpul disini ya.” Ia memberi tanda dengan mengarahkan wajahnya ke kanan dan ke kiri. Tempat berkumpul yang ia maksud adalah sebuah lapangan kecil berhias pohon-pohon kurma yang terletak diantara Masjid Quba dan Gedung Eksebisi Madinah tempat kembalinya iman.

Kami menuju ruang dalam masjid putih yang memiliki empat buah menara itu. Jalan masuknya demikian padat karena juga digunakan untuk keluar. Wahyudi memandu rombongan jamaah pria sedangkan kaum hawa saya pandu ke pintu masuk mereka yang agak ke belakang. Begitu urusan selesai barulah saya masuk ke dalam masjid yang Allah puji dalam surat At-Taubah ayat 108,

لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا ۚ لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ

“Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.”

Interior masjid terdiri dari dua bangunan beratap yang disambungkan oleh sebuah teras luas berlantai abu-abu. Berbeda dengan kedua ruang sholat, teras ini tidak memiliki atap hingga sinar matahari maupun burung-burung merpati dapat masuk dengan mudah. Selesai sholat saya duduk sejenak sambil memperhatikan orang-orang dari berbagai negara bermunajat kepada Allah, memohon berbagai macam hal atau memohon ampunan-Nya. Tak sedikit yang meneteskan air mata dan tak jarang pula yang sibuk berfoto ria. Cleaning service berseragam biru melirik dengan aneka tatapan; ada yang mengharapkan sedekah dan ada yang tak suka dengan orang-orang yang sibuk selfie hingga mengganggu orang-orang yang tengah sholat diatas karpet merah yang empuk dan nyaman.

English

Espanol

 

[1] Shahih. HR. Ibnu Majah (no. 1412) dan lainnya.

[2] Shahih. (no. 1399 {516})

2 Comments Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s