Raudhah, Sebuah Taman Surga

raudhah-2.jpg
Kami membentuk lingkaran persis di depan pintu keemasan Masjid Nabawi. Sebuah briefing singkat tentang apa saja yang harus dilakukan di dalam masjid. Setelah para jamaah paham saya pun memandu mereka membaca doa masuk masjid. Sendal-sendal kami masukan ke dalam kantong plastik atau tas jinjing bersamaan dengan bertiupnya angin musim dingin yang terasa sekali di punggung. Tempat yang akan kami tuju adalah raudhah, sebuah taman surga yang Allah turunkan ke bumi. Rasulullah pernah bersabda mengenai tempat yang satu ini,
ما بين بيتي ومنبري روضة من رياض الجنة
“Apa yang terletak diantara rumahku dan mimbarku adalah taman dari taman-taman surga.” (Shahih. HR. Al-Bukhari (no. 1195) dan Muslim (no.1390))

Perjalanan dari pintu masjid menuju Raudhah terasa demikian syahdu. Hampir tidak terdengar suara apapun selain desing pelan alat penghisap debu yang dikendalikan oleh cleaning service berseragam abu-abu atau biru. Semakin kita ke dalam menyusuri tiang-tiang putih yang jumlahnya demikian banyak terdengar pula lantunan ayat-ayat Al-Qur’an. Terkadang saya berhenti sejenak untuk menyimak ayat-ayat yang seolah berbicara langsung dengan hati.

Semakin mendekati raudah karpet masjid nyaris tak nampak karena tertutupi puluhan orang yang tengah tidur pulas di balik selimut. Sebagian tak tampak wajahnya namun kaki-kaki mereka menonjol keluar dari selimut. Umumnya mereka berasal dari Pakistan atau Afghanistan, menghabiskan waktu di Nabawi sekedar untuk beribadah; dan kini mereka tengah melepas lelah sejenak sebelum kembali mendekatkan diri pada Allah.

Tembok putih dari kain kanvas tampak di sebelah kami sementara dari belakangnya terdengar suara wanita. Ada yang berbicara bahasa Indonesia, Hindi, Urdu, atau Arab; yang jelas kumpulan wanita ini lebih bising dibanding para lelaki, “Kita sudah sampai di Raudhah.” Kata saya pada para jamaah.

Pak Oni dan kedua putranya yang bernama Farhan dan Faris tampak demikian terpesona menyaksikan ratusan pria yang berbaris di sebuah ruang sempit. Di kirinya tembok putih dan para wanita yang bising sementara di sisi kanan terdapat rak-rak Al-Qur’an yang menempel pada pagar panjang berwarna keemasan. Beberapa askar berseragam hijau tampak mengawasi di beberapa pintu masuk yang menempel di pagar.

Antara tempat kami berdiri sekarang dengan raudhah terdapat jarak sekitar 50 meter. Jarak tersebut dibagi menjadi beberapa ruang yang dibatasi tembok kain putih. Seperti ini cara kerjanya: Apabila kelompok yang berada di raudhah telah menyelesaikan shalat dan keluar maka selubung antara ruang sebelum raudhah dibuka dan orang-orang dari rombongan berikutnya segera masuk untuk mendirikan sholat. Demikian seterusnya.

“Ingat apa yang saya sampaikan tadi. Begitu sampai di karpet hijau segera sholat karena itu tandanya kita sudah di dalam raudhah.” Pesan saya. “Kalau sudah selesai, gantian dengan temannya atau berikan pada saudara seiman yang lain. Insya Allah urusan kita pun akan dimudahkan oleh Allah.”

Setiap kelompok diberi waktu sekitar 5 hingga 10 menit untuk sholat di Raudhah. Untuk mengusir rasa jenuh, kelompok-kelompok yang masih mengantre pun saling berkenalan dan mengobrol. Apapun bangsa atau bahasanya, obrolan ini akan menyambung saja meski yang bercerita maupun yang mendengar bicara dalam bahasa yang berbeda. Disini kami semua bisa menjadi akrab secara tiba-tiba meski ketika pintu raudhah dibuka semua saling berebut tempat.

“Farel dan Rayhan jangan mencar ya. Kalau terpisah jangan kemana-mana. Tetap menuju Raudah dan shalat. Insya Allah nanti saya jemput!” pesan saya pada keponakan dan putra Pak Nugie. Farel yang sudah duduk di SMP merupakan anak yang cerdas dan baik hati namun agak badung; adapun Rayhan yang masih kelas satu SD juga baik namun agak penakut.

“Mimbar nabi yang mana pak?” tanya Pak Nugie.

“Itu pak.” Kata saya seraya menunjuk sebuah mimbar warna putih yang tingginya nyaris menyentuh langit-langit Masjid.

Tak lama kemudian pintu Raudhah terbuka dan kami semua tergopoh-gopoh menuju ke dalamnya. Sebagian memang berniat untuk lari namun sebagian yang lain, terutama para manula, hanya terpental kesana-kemari bagai papan kecil diterpa tsunami.

Saya melongok kebawah dan ternyata karpet sudah berwarna hijau. Saya pun sholat sunnah dua rakaat dengan niat dhuha karena saat itu waktu telah memasuki jam sembilan pagi. Tidak ada niat khusus untuk sholat di raudhah, seseorang boleh meniatkan untuk sholat mutlak, dhuha, istiqoroh, atau tahajud bila tiba disana tengah malam.

Selesai sholat saya mencari-cari jamaah yang lain namun tak satu pun yang nampak. Seorang bapak-bapak Indonesia berwajah lesu memandang saya penuh harap, “Sini pak, gantian.” Sementara ia sholat saya pun keluar dari Raudhah menuju tembok masjid yang dipenuhi rak-rak Al-Qur’an. Ternyata Pak Oni dan kedua putranya telah tiba disana.
Ini namanya apa pak?” Tanyanya.

Oh ini disebut Suffah pak.” Kata saya sambil menunjuk deretan rak Al-Qur’an. “Dulu ini bagian dari teras masjid yang dijadikan rasulullah sebagai tempat tinggal bagi para sahabat yang datang ke Madinah semata-mata untuk menuntut ilmu agama.

Ohhhh….” Mata Pak Oni yang dibungkus kacamata bulat berbinar-binar. “Mihrab ini juga masuk ke dalam suffah?” Tanyanya seraya menunjuk mihrab imam yang ditandai tiang mikrofon berwarna keemasan.

Iya, itu juga bagian dari suffah. Tapi di zaman rasulullah bukan seperti ini bentuknya.

English

Spanish

7 Comments Add yours

  1. My Surya berkata:

    Menelusuri banyak ilmu di sini, aku suka. Penjelasan yang tertulis seakan mengajakku turut mengikuti perpindahan dari lokasi ke lokasi berikutnya, alhamdulillah, barakallah. 🙂

    Disukai oleh 1 orang

  2. Mayer San berkata:

    Fiyki barokallahu ya bundo. Inilah mengapa kami namai situs bukanmanasikbiasa. Intinya manasik namun disisipi dalam kisah macam dongeng sebelum tidur😁

    Ps: semuanya pengalaman nyata😎

    Disukai oleh 1 orang

  3. My Surya berkata:

    Justru dari pengalaman nyata dan langsung dapat bersapa dengan pengisah, ku sungguh bersyukur, alhamdulillah, terimakasih pokoknyaaa. Sangat berkesan, insyaAllah. 🙂

    Disukai oleh 1 orang

    1. Mayer San berkata:

      Hanya ingin berbagi, bundo; dan menjalankan amanah seorang tholib. Kebanyakan teman dalam menuntut ilmu Allah beri kesempatan untuk mengajar di kelas atau halaqoh. Adapun mayer san, Allah beri jalan lewat website dan bimbingan haji umroh.

      Semoga Allah memberkahi langkah bundo dalam taawun alal birri wa taqwa.

      🗿😼

      Disukai oleh 1 orang

  4. My Surya berkata:

    Aamiin ya Rabbal’alamiin. Bapak Mayer San juga, selamat meneruskan perjuangan di jalan-Nya. Semoga lancar, berujung indah dan senyuman 🙂 🙂 🙂

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s