I’tikaf di Masjid Al-Haram

Satu hal yang membedakan umroh Ramadhan dengan umroh reguler adalah sebuah ibadah yang tak dapat ditemukan di bulan-bulan selain Ramadhan. Hanya di bulan ini terdapat kesempatan untuk melaksanan ibadah i’tikaf 10 hari terakhir di Masjid; dan bukan sembarang masjid pula yang menjadi tempat i’tikaf kita. Ia adalah Masjidil Haram di kota Makkah.

Terdapat dua kenikmatan bagi setiap muslim yang beri’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan:

  • Meneladani apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ummul Mukminan Aisyah,

وَ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

            “Dari Aisyah, bahwa Nabi beri’tikaf sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga        beliau  wafat, kemudian sesudah (beliau wafat) istri-istrinya beri’tikaf. Muttafaq ‘Alaihi[1]

  • Terbukanya kesempatan bagi seorang muslim untuk mendapatkan Lailatul Qadar yang terjadi pada salah satu dari tujuh malam terakhir Ramadhan sebagaimana yang dijelaskan oleh hadits Ibnu Umar,

وَ عَنْ ابْنِ عُمَرَ اَنَّ رِجَالًا مِنْ اَصْحَابِ النَّبِيَّ أُرُوْا لَيْلَةً الْقَدْرِ فِي الْمَنَامِ، فِي السَّبْعِ الاَوَاخِرِ. فَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ: اَرَى رؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِيْ السَّبْعِ الأَوَاخِرِ، فَمَنْ كَانَ مُتَحَرَّيَهَا، فَلْيَتَحَرَّها فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ. مُتَفَقٌ عَلَيْهِ.

            “Dari Ibnu Umar, ada beberapa sahabat Nabi bermimpi melilhat lailatul qadar pada             tujuh malam terakhir, maka Rasulullah bersabda, “aku ditunjukkan kebenaran                      mimpimu yang bertepatan pada tujuh (malam) yang terakhir. Barangsiapa yang                  akan ingin mencarinya,maka carilah pata tujuh (malam) terakhir.”              Muttafaq ‘Alaihi. [2] 

            Lalu ibadah apa saja yang dapat kita lakukan selama i’tikaf ? seorang dapat mengerjakan sholat-sholat sunnah, membaca Al-Qur’an, membaca buku-buku agama, atau memperbanyak thawaf sunnah. Jangan lupa untuk memperbanyak doa yang diajarkan rasulullah pada Ummul Mukminin Aisyah,

اللَّهُمَّ إنَّكَ عَفُوٌّ، تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

           (Allahumma innaka afuwwun, tuhibbul afwa, fa’fu anniy) “Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau menyukai ampunan, maka ampunilah hamba.”

 

Buka Puasa Bersama

            Antara waktu Ashar hingga maghrib anda akan mendapati para jamaah di Masjidil Haram mempersiapkan diri untuk berbuka . Hampir di setiap tempat terdapat dua baris manusia yang duduk berhadapan sementara diantaranya terhampar kain putih yang amat panjang. Carilah tempat yang menurut anda nyaman dan bergabunglah dengan mereka. Ucapkan salam maka siapapun yang anda temui baik orang Melayu, India, Pakistan, Bangladesh, Tamil, Arab, Turki, Afrika, Eropa, atau Amerika; insya Allah mereka akan menjawab salam dan mulai bergeser untuk memberi tempat duduk. Beramah-tamahlah dengan mereka sementara seiring berjalannya waktu satu demi satu hidangan datang. Ada kurma-kurma berwarna coklat kemerahan, tumpukan roti tanis yang bulat, atau krim keju. Pada saat itu anda pun in sya’ Allah dapat menyaksikan orang datang membawa teko berisi teh atau kopi, sementara yang lain membawa dus berisi jus buah. Bila mereka meminta anda untuk membagikan makanan atau minuman maka lakukanlah karena disitulah nikmatnya buka puasa bersama.

Menjelang dikumandangkannya adzan maghrib seluruh jamaah telah siap di tempat masing-masing hingga ketika muadzin melantunkan, “Allah Akbar Allah Akbar” mereka pun membaca basmallah lalu minum apapun yang disediakan. Bila mau kita pun boleh berbuka puasa dengan zamzam. Selesai membasahi tenggorokan, jangan lupa untuk membaca doa buka puasa yang diajarkan oleh rasulullah,

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ العُرُوْكُ وَثَبَتَ الْاَرْجُ إِنْشَاءِ اللهِ

(Dzahaba dhommau, wabtallatil uruwk, wa tsabatul arju in sya’ Allah)  “Telah hilang rasa haus, dan urat-urat telah basah serta pahala telah tetap, insya Allah.”[3]

mak18

            Jangan khawatir kehabisan makanan karena dengan izin Allah kita akan dapati hidangan justru bertambah dan bertambah. Terkadang kita justru harus memikirkan cara yang tepat untuk menunjukkan penolakan pada orang-orang baik hati yang dengan gembira terus menyodorkan teh, kopi, atau roti.

Beberapa saat menjelang iqomah, makanan dan minuman mulai digeser sementara kain putih dilipat. Barisan manusia yang saling berhadapan kini sama-sama menghadap Ka’bah. Demikian nikmat sholat maghrib setelah berbuka bersama saudara-saudara seiman yang boleh jadi tidak akan kita jumpai lagi selamanya.

Selesai sholat maghrib tersedia waktu luang hingga datangnya waktu isya’. Anda bisa keluar masjid menuju toilet namun kami sarankan untuk segera kembali ke dalam mengingat padatnya manusia yang hendak memasuki masjid.

Cukup mudah menemukan toilet. Anda tinggal keluar dari masjid hingga nampak bangunan yang mirip pintu masuk stasiun kereta api bawah tanah. Terdapat sepasang eskalator yang mengapit tangga manual. Selain yang satu ini ada pula toilet yang terdapat dekat Jam Raksasa. Bangunan itu tampak seperti ruko tiga lantai berwarna abu-abu yang di bagian atas pintu masuknya terdapat logo pria atau wanita berukuran besar. Adapun tempat wudhu in sya’ Allah lebih mudah ditemukan karena begitu anda keluar masjid biasanya terdapat sebuah bangunan tanpa atap yang di dalamnya berjejer keran-keran air.

Sholat tarawih di Masjidil Haram tidak sama seperti dengan di tempat-tempat lain. Sholat tarawih disana dapat berlangsung lebih dari satu jam. Memang agak letih namun entah kenapa rasa letih tadi hilang ketika menyimak bacaan indah sang imam. Apabila anda merasa lelah atau mengantuk maka beristirahatlah atau berwudhu.

Selesai tarawih anda dapat beristirahat atau tidur hingga datang waktu sahur. Sama hanya dengan waktu berbuka, in sya’ Allah di waktu sahur pun tidak sulit untuk mendapatkan makanan. Anda dapat memperolehnya di toko atau boleh jadi akan ada saudara seiman yang hendak berbagi dengan kita. Perbanyaklah berdoa karena doa orang yang berpuasa cepat untuk dikabulkan, in sya’ Allah.

English

Espanol

[1]     Shahih: Diriwayatkan oleh Bukhari (2126) bab al-I’tikaf Fii al-’Asyr al-Awaakhir, Muslim (1172) bab al-I’tikaf Fii al-’Asyr al-Awaakhir Min Ramadhan. Al-Asqalani, Ibnu Hajar. Bulughul Maram, Jakarta: Pustaka As-Sunnah, hal.338

[2]     Shahih: Diriwayatkan oleh Bukhari (2015) bab Iltimaas Lailah al-Qadr Fii as-Sab’i al Awaakhir, Muslim (1165) bab Fadhl Lailah al-Qadr. Al-Asqalani, Ibnu Hajar. Bulughul Maram, Jakarta: Pustaka As-Sunnah, hal.340

[3]     HR. Muslim no.2055 (174), dan Ahmad VI/2,3,4-5. Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas dalam Kumpulan Do’a dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahih. Jakarta: Pustaka Imam Syafi’i, hal.106.

One Comment Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s