Hakikat Dakwah Para Rasul Tidaklah Berbeda

 

 

flower-garden.jpg

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thagut itu.” Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (SQ. An-Nahl: 36)

 

Allah telah menjelaskan pada para hamba-Nya bahwa Ia telah mengutus seorang nabi atau rasul pada tiap umat dan tiap zaman. Nabi dan rasul yang pertama adalah Nuh alaihi sallam dan yang terakhir adalah Muhammad sholallahu alaihi wa sallam. Pesan yang mereka sampaikan adalah sama yaitu hanya menyembah dan menggantungkan harapan pada Allah. Tidak meminta perlindungan dan mengharap rizki kecuali pada-Nya. Pesan ini dikenal dengan istilah tauhid atau mengesakan Allah.

Selain mengesakan Allah, terdapat sebuah pesan lain yang juga tidak berbeda antara satu nabi dan rasul dengan yang lain; yaitu menjauhkan diri dari apa-apa yang dianggap dapat mendatangkan rizki atau menolak bala. Entah itu manusia, jin, gunung, jimat, dukun, kuburan, dan berbagai makhluk lain adalah ciptaan Allah; mereka pun bukan yang menciptakan dan mengatur alam semesta. Maka mustahil bila mereka mampu memberi rizki dan menolak bala.

Pesan tauhid pertama kali turun pada masa Nabi Nuh karena di zaman beliaulah pertama kali terjadi kesyirikan. Kala itu manusia mengukir patung-patung orang shalih dalam rangka mengenang keluhuran mereka. Seiring berjalannya waktu, patung-patung itu tidak hanya dikagumi namun disembah. Manusia mulai meninggalkan doa pada Allah dan berpaling pada patung-patung tersebut. Mereka meyakini bahwa doa tidak akan diijabah kecuali melalui perantara patung-patung tadi. Dan karena posisinya berada diantara yang memohon (manusia) dan yang dimintai permohonan (Allah) maka lambat-laun sebagian manusia merasa lebih dekat pada patung-patung tadi. Merasa lebih perlu melayani mereka dan mengharapkan ridha mereka. Ketakutan pada Allah pun berkurang sementara ketergantungan pada patung-patung bertambah.

Terhadap umat yang demikianlah para nabi dan rasul diutus. Maka tidaklah satupun diantara mereka yang mengajak manusia selain pada mengesakan Allah dan meninggalkan kesyirikan.

 

Sumber gambar: http://theunboundedspirit.com/the-sacred-art-of-gardening/

One Comment Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s