Membuat Aturan Sendiri

people-walk-on-a-platform-at-waverly-train-station-in-edinburgh

Satu lagi KRL Commuter Line berhenti di Peron Dua. Suara sang announcer terdengar dari speaker biru yang bergelantungan di langit-langit; kemudian diikuti dengan terbukanya pintu-pintu gerbong secara serentak. Orang-orang pun menghambur keluar bak air bah. Tua dan muda, pria maupun wanita, semuanya berjalan ke arah yang sama…pintu keluar stasiun. Mata saya pun mulai mencari-cari bagai radar, “mana ya Umar?”

Bukannya Umar, yang saya dapati justru seorang pria kekar berkaus hitam yang berjalan tergopoh-gopoh. Di belakangnya seorang petugas keamanan stasiun mengejar seraya berkata, “Pak, balik lagi ke tempat bapak datang ya.”

“Ah saya mau keluar kok.” Tukas si kaus hitam seraya berusaha melepaskan diri dari si petugas. 

“Iya pak, tapi bapak tidak boleh melintas di rel. Ayo kembali ke peron.”

“Enggak!” si kaus hitam balik melawan dan suaranya meninggi.

Mendadak terdengar bentakan dari sisi kiri saya, “Kamu mau apa hah?” Seorang petugas lain yang lebih besar datang dengan wajah garang. Bentakan garang dari si petugas besar ini pun menarik perhatian orang-orang yang melintas.

Bak lolongan serigala, teriakan si petugas besar menghasilkan efek hebat. Pintu kantor keamanan yang persis berada di kanan saya terbuka dan berhamburanlah petugas-petugas keamanan lain. Semuanya memandang galak ke arah si kaus hitam. Benar-benar mirip kawanan serigala memenuhi panggilan kawannya.

Si kaus hitam pun ciut dan mengalah. Ia berjalan ke arah rel sementara beberapa petugas menggiring dan mengawasi. Di sebuah tempat si kaus hitam pun memanjat ke peron. Dan subhanallah, rupanya di belakangnya terdapat dua pemuda yang juga tengah digiring. Ternyata dalam waktu singkat si kaus hitam telah mendapat dua orang pengikut. Kini si kaus hitam dan dua orang pengikutnya berjalan dengan tertib di peron.

Tergantung siapa yang menilai

Kejadian seperti ini tentu saja memberikan kesan yang berbeda-beda bagi siapa yang menyaksikannya. Ada yang menyetujui aksi para petugas dalam menegakkan ketertiban namun ada pula yang menjadikan si kaus hitam inspirasi. Saya sendiri menganggap aksi para petugas sudah tepat karena memang di stasiun kereta api terdapat larangan melintas di jalur kereta. Pintu keluar masuk sudah ditentukan dan siapapun tidak diizinkan untuk berbuat semaunya.

Si kaus hitam juga menjadi bukti bahwa siapapun yang coba untuk membuat aturan sendiri kemungkinan besar akan mendapat pengikut entah sedikit atau banyak. Andai para petugas membiarkan aksi membuat aturan sendiri ini maka cepat atau lambat stasiun kereta akan menjadi kacau. Dan kekacauan akan berbuntut pada kerusakan.

Balada para petugas vs si kaus hitam ini mengingatkan saya pada sebuah hadits shahih yang bersumber dari ummul mukminin Aisyah,

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa yang mengada-adakan suatu hal yang baru dalam perkara kami ini yang tidak ada perintahnya dari kami maka tertolak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Inilah sebuah siklus kehidupan yang senantiasa terulang dan terulang. Entah itu urusan duniawi atau ukhrowi, akan ada saja orang yang berusaha membuat aturan sendiri. Demikian pula halnya dalam hal ibadah. Sebaliknya akan ada pula orang yang berusaha mempertahankan aturan yang telah baku. 

Sumber gambar: http://www.dailyrecord.co.uk/news/scottish-news/edinburgh-waverley-looks-like-riot-7068686

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s