Allah Satu-Satunya Pemberi Rezeki Dan Pelindung

mad6

Pernahkah anda berpikir tentang seorang karyawan yang tidak becus dalam bekerja? Ia bekerja untuk perusahaan A serta diberi berbagai fasilitas dan gaji oleh perusahaan tersebut. Meskipun demikian karyawan ini tidak pernah mengerjakan tugas yang diberikan oleh perusahaan A dan sebaliknya justru dengan senang hati mengerjakan tugas untuk perusahaan B, C, D, dan lain sebagainya; yang tidak mempekerjakannya dan tidak pula memerinthkannya untuk melakukan tugas-tugas untuk mereka. Kita semua dapat memahami dengan mudah bagaimana reaksi atasannya di perusahaan A. Tidak ridho dan murka.

Sebagaimana Allah menciptakan segala yang ada di jagat semesta ini tanpa bantuan siapapun, maka demikian pula apa yang Ia inginkan dalam urusan peribadahan. Ia menginginkan para hamba dari kalangan manusia dan jin untuk tunduk sujud pada-Nya saja. Ia juga memerintahkan para hamba untuk meminta pertolongan dan rezeki hanya kepada-Nya saja. Dan Ia menginginkan para hamba untuk mengibadahi-Nya dengan cara yang telah Ia tentukan. Keinginan Allah yang demikian disebut dengan tauhid uluhiyyah atau tauhid ibadah. Konsekuensi dari tauhid uluhiyyah adalah seorang hamba tidak diperkenankan untuk berdoa, sholat, puasa, berkurban, memohon rezeki, meminta pertolongan, dan berbagai bentuk ibadah lainnya kecuali kepada Allah semata. Hal ini sesuai dengan firman-Nya yang kita baca setap hari minimal 17 kali,

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَ إِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ

Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” (QS: Al-Faatihah: 5)

Beda halnya dengan tauhid rububiyyah yang disepakati oleh umat Islam bahwa hanya Allah saja yang menciptakan dan mengatur alam semesta serta memberikan rezeki; sebagian yang lain sering tergelincir dalam kesalahan dalam memahami tauhid uluhiyyah. Kesalahpahaman ini pula yang dulu pernah tejadi pada masa nabi, ketika orang-orang Arab meyakini rububiyyah Allah namun mereka enggan untuk memohon pada-Nya semata. Mereka justru meminta rezeki dan perlindungan pada berbagai berhala baik itu pohon, patung, maupun batu. Mereka juga menyembelih untuk mendapatkan ridho dari berhala-berhala tadi dan sebaliknya takut tertimpa bencana apabila tidak memberi sesaji pada mereka (berhala).

Masyarakat Arab kala itu meyakini bahwa perbuatan mereka tersebut tidak dilakukan untuk mempersekutukan Allah; mereka justru meyakini bahwa berhala-berhala tersebut dapat mendekatkan kedudukan mereka pada Allah. Mereka mengagungkan dan memohon pada berhala-berhala dengan niat baik dan tujuan yang jelas, yaitu mendapatkan ridho Allah. Namun persoalannya apakah Allah ridho dengan perbuatan mereka? Seandainya iya, apakah mungkin Ia menurunkan ayat ini,

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِن السَّمَاءِ وَ الاَرضِ أَمَّنَ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَ الاَبصَرَ وَ مَنْ تَخْرِجُ الحَىَّ مَنِ الْمَيِّتِ وَ تُخْرِجُ المَيّتَ مِنَ الحَىِّ وَ مَنْ يُدَبِّرُ الْامْرُ، فَسَيَقُوْلُونَ اللهُ، فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُوْنَ. فَذَلِكُمُ اللهُ رَبُّكُمْ الحَقُّ، فَمَاذَا بَعْدَ الحَقِّ إِلاَّ الضَّلَلُ، فَأَنَّى تُصْرَفُوْنَ.

Katakanlah (Muhammad): “Siapakah yang memberi rizki kepadamu, dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan? Maka mereka menjawab, ‘Allah.’ Maka katakanlah, mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)? Maka (Dzat yang demikian) itulah Allah, Rabb kamu sebenarnya, maka tidak ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan. Maka mengapa kamu masih berpaling (dari kebenaran)?” (QS. Yunus: 31-32)

Dan juga ayat satu ini,

وَلَإِن سَأَلْتَهُمْ مَّنْ خَلَقَ السَّمَوٰتِ وَالْاَرْضَ لَيَقُوْلُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيْزُ العَلِيْمُ.

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, ‘siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ Pastilah mereka akan menjawab ‘Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa Lagi Maha Mengetahui.

Sebagian orang terjatuh pada kesalahan dalam tauhid uluhiyyah karena mereka belum memahami dengan benar arti kata rabb dan illah. Apabila kita tanyakan pada mereka arti dari kedua kata tersebut umumnya akan dijawab “Tuhan.”. Memang betul kedua kata tersebut dapat diartikan Tuhan, meskipun demikian scara rinci tetap berbeda. Rabb artinya Tuan atau Penguasa sedangkan Illah berarti sesuatu yang disembah dengan penuh kecintaan dan pengagungan.

Mari kita ingat kembali asbabun nuzul atau sebab diturunkannya surat Al-Lahab. Bermula dari panggilan rasulullah agar segenap penduduk Makkah berkumpul di Bukit Shafa. Ketika mereka telah berkumpul dan siap mendengarkan, beliau pun bertanya, “Bagaimana pendapat kalian jika aku katakan kepada kalian bahwa pada pagi atau sore hari musuh akan datang kepada kalian? Apakah kalian akan mempercayaiku?” Mereka menjawab, “Ya,”. Beliau lalu bersabda, “Sesungguhnya aku memperingati kalian akan adanya siksaan yang amat pedih.” Abu Lahab berkata, “Apakah untuk ini engkau mengumpulkan kami? Binasalah Engkau!” Allah kemudian menurunkan surat Al-Lahab.1

Pertanyaannya adalah mengapa Abu Lahab tega mencela keponakannya sendiri dengan keras di tengah khalayak ramai? Bukankah rasulullah hanya memperingati kaum Quraisy akan adanya siksa yang pedih? Bukankah kaum Quraisy mengakui Allah sebagai Tuhan penguasa semesta? Jawabannya adalah karena sebelum periode dakwah secara terang-terangan, kaum Quraisy telah memahami esensi dakwah rasulullah, yaitu mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah semata. Rasulullah mengajak kaum Quraisy untuk mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ namun nyatanya mereka menolak dan menjauhi beliau. Pandangan masyarakat pada beliau pun berubah drastis. Dari Al-Amin atau Orang yang Dipercaya menjadi tuduhan-tuduhan keji macam gila, penyihir, dukun, atau penyair.

Seandainya kata Illah hanya diartikan sebagai Tuhan, tentu kaum Quraisy tidak akan menjauhi, menyakiti, dan mengusir rasulullah beserta orang-orang yang menerima seruannya. Justru mereka enggan menerima ajakan rasulullah karena memahami dengan benar apa arti kata Illah, yaitu sesuatu yang disembah dengan penuh kecintaan dan pengagungan.

Tentu saja ajakan rasulullah terasa asing bagi kaum Quraisy dan suku-suku Arab lainnya, karena ajaran untuk beribadah pada berhala telah menjadi kebiasaan ayah, kakek, dan para pendahulu mereka. Allah menceritakan tentang keengganan mereka dalam surat Shad ayat 5,

أَجَعَلَ الْآَلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

Apakah ia (Muhammad) hendak menjadikan sesembahan yang beraneka ragam itu menjadi satu sesembahan saja? Sungguh ini ajakan yang aneh.

Mengapa mereka katakan aneh? Karena meyakini bahwa tidak afdhal meminta pada Allah tanpa melalui perantara berhala-berhala tadi; padaha mereka menyadari bahwa Allah yang memberi mereka rezeki. Menurut keyakinan kaum Quraisy kala itu, meninggalkan penyembahan berhala sama artinya meninggalkan sesuatu yang sudah pasti dapat mendekatkan diri mereka pada Allah,

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

“Orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai wali (sasaran pemujaan), mereka mengatakan, “Tidaklah kami beribadah kepada mereka, selain agar mereka mendekatkan diri kami kepada Allah lebih dekat lagi.” (QS. Az-Zumar: 3)

Berpaling tanpa sadar

Mengapa seseorang dilarang menjadikan berhala sebagai sarana untuk mendekatkan diri pada Allah? Banyak alasannya. Pertama, karena perbuatan tersebut secara tidak langsung menyeret pelakunya pada keyakinan bahwa Allah tidak lebih berkuasa daripada perantara-perantara (berhala) tesebut. Kedua, ketergantungan pada berhala akan mengikiskan cinta pada Allah sedangkan di saat yang bersamaan menebalkan cinta terhadap berhala itu. Maka kita dapati orang yang tauhidnya lemah, menyikap musibah yang menimpanya dengan cara yang rumit dan mahal.

Alih-alih mengambil air wudhu lalu sholat atau mengangkat tangannya ke langit dan menangis pada Allah, orang-orang tersebut justru rela pergi ke daerah yang jauh untuk menangis dan memohon di hadapan kuburan atau orang yang dianggap sakti. Apabila kecintaan mereka pada Allah demikian besar, maka perlukah pergi sejauh itu? Justru hal demikian menjadi bukti bahwa ketergantungan pada hal-hal tersebut lebih besar dan lebih dominan bagi pelakunya.

Dalam surat Al-Baqarah ayat 165 Allah menggambarkan keadaan orang yang mencintai hal-hal tersebut,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ

يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).

Apabila kecintaan terhadap selain Allah terus tumbuh subur maka ia akan menggantikan tauhid dengan syirik. Padahal dalam surat Al-Ikhlas Allah telah menjelaskan bahwa Ia satu-satunya tempat meminta dan tidak ada satu pun yang sebanding dengan-Nya.

Ibadah yang diridhoi Allah

Kita berprasangka baik bahwa tiap muslim memilki niat yang baik untuk mendekatkan diri pada Allah. Niat baik tersebut tentu harus diapresiasi karena menunjukkan adanya kecintaan seseorang pada Allah. Hanya saja, kita pun tidak boleh melupakan dua hal penting yang menjamin diridhoi dan diterimanya ibadah kita. Kedua hal itu adalah:

  • Ikhlas

    Ikhlas atau merelakan segala sesuatunya untuk Allah merupakan syarat penting diterimanya ibadah seseorang. Siapapun yang beribadah dengan niat riya, ujub, atau keduanya maka sia-sia segala ibadahnya. Terdapat banyak dalil dalam Al-Qur’an maupun hadits-hadits rasulullah yang menerangkan tentang ikhlas. Diantaranya adalah surat Al-An’am ayat 162-163,

    قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

Katakanlah: “Sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan sekalian alam. Tiada sekutu bagi-Nya dan aku adalah termasuk orang yang pertama-tama Islam.

  • Mencontoh rasulullah

    Rasulullah merupakan utusan Allah yang diutus untuk mengajak manusia untuk mengesakan-Nya serta meninggalkan penghambaan pada apa-apa yang dianggap tuhan. Rasulullah pula manusia yang diturunkan padanya wahyu Allah untuk disampaikan pada manusia. Maka, kiranya pantas bagi seorang muslim untuk beragama tidak dengan cara yang diajarkan beliau? Dalil tentang perintah untuk mencontoh rasulullah banyak sekali, salah satunya adalah surat Al-Hasyr ayat 7,

    وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan apa-apa yang diberikan oleh rasul untukmu maka ambillah; dan apa-apa yang ia larang kalian darinya maka tinggalkanlah. Bertakwalah pada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukuman-Nya.

1Cerita lengkap mengenai turunnya ayat ini dapat dilihat dalam tafsir Ibnu Katsir tentang surat Al-Lahab. Juga dapat dilihat dalam Hadits Bukhari yang diriwayatkan dari Abdullah Bin Abbas (HR. Al Bukhari no. 4972, bab. Tafsir) dan Muslim (no. 218, bab Iman).

English

Spanish

2 Comments Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s