Allah Satu-Satunya Pencipta Alam Semesta

أَلَا لَهُ خَلْق وَ اَلاَمْرُ. تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ اَلاَلَمِينَ…

…Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah Rabb semesta alam.” (QS. Al-A’raf: 54)

awan

http://cosmicview.qwriting.qc.cuny.edu/archives/311

Satu esensi tauhid adalah keyakinan bahwa hanya Allah yang menciptakan alam semesta beserta segala isinya.

Ia juga yang mengatur cara kerja alam semesta sekaligus satu-satunya yang menakdirkan segala sesuatu. Ia yang menghidupkan dan mematikan. Pemahaman ini juga meliputi keyakinan bahwa hanya Allah yang memberikan rezeki pada setiap hamba. Keyakinan ini dikenal dengan nama Tauhid Rububiyyah.

Rububiyyah berakar dari kata Rabb yang artinya Tuan atau Penguasa. Maka Tauhid Rububiyyah dapat diartikan sebagai keyakinan bahwa hanya Allah satu-satunya yang dapat menciptakan, mengatur, menakdirkan, dan memberi rezeki.

Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa hanya Allah semata yang mampu melaksanakan itu semua amat banyak, diantaranya adalah:

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِن السَّمَاءِ وَ الاَرضِ أَمَّنَ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَ الاَبصَرَ وَ مَنْ تَخْرِجُ الحَىَّ مَنِ الْمَيِّتِ وَ تُخْرِجُ المَيّتَ مِنَ الحَىِّ وَ مَنْ يُدَبِّرُ الْامْرُ، فَسَيَقُوْلُونَ اللهُ، فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُوْنَ. فَذَلِكُمُ اللهُ رَبُّكُمْ الحَقُّ، فَمَاذَا بَعْدَ الحَقِّ إِلاَّ الضَّلَلُ، فَأَنَّى تُصْرَفُوْنَ.

Katakanlah (Muhammad): “Siapakah yang memberi rizki kepadamu, dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan? Maka mereka menjawab, ‘Allah.’ Maka katakanlah, mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)? Maka (Dzat yang demikian) itulah Allah, Rabb kamu sebenarnya, maka tidak ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan. Maka mengapa kamu masih berpaling (dari kebenaran)?” (QS. Yunus: 31-32)

Ayat tersebut berisi teguran kepada kaum musyrikin Arab yang meyakini bahwa hanya Allah saja yang dapat menciptakan langit dan bumi beserta segala isinya; namun di saat yang bersamaan menyembah tuhan-tuhan lain.

Selain ayat di atas, dalam surat Az-Zukhruf ayat 9 juga diceritakan bagaiaman orang-orang Musyrikin Arab juga mengakui bahwa Allah sebagai satu-satunya Pencipta dan Pemberi Rezeki,

وَلَإِن سَأَلْتَهُمْ مَّنْ خَلَقَ السَّمَوٰتِ وَالْاَرْضَ لَيَقُوْلُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيْزُ العَلِيْمُ.

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, ‘siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ Pastilah mereka akan menjawab ‘Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa Lagi Maha Mengetahui.

Tanpa Sekutu

Manusia begitu mudah untuk sombong. Ketika mendapat suatu keberhasilan maka tidak jarang tercetus pikiran bahwa hasil yang ia raih semata-mata berkat usahanya sendiri, dirinya sendiri, dan tanpa bantuan siapapun. Banyak kasus dimana sebuah perusahaan yang dibangun oleh dua orang rekan atau lebih terlibat konflik kepentingan karena masing-masing anggotanya ingin mengambil semua. Di sisi lain kita pun mengetahui bahwa seorang yang merintis suatu usaha atau organisasi pasti membutuhkan orang-orang lain untuk mengelola usahanya ketika usaha tersebut telah membesar dan meluas. Seorang yang merasa kuat dan coba untuk mengelola sesuatu yang besar seorang diri pasti binasa cepat atau lambat. Inilah ketetapan Allah yang harus kita pahami, bahwa manusia itu sesungguhnya teramat lemah.

Berbeda dengan manusia, Allah menciptakan langit, bumi, beserta segala isinya seorang diri. Demikian pula dalam mengatur kesemuanya itu. Ia melakukannya sendiri. Dan begitu pula dalam memberi rizki pada hamba-hambanya yang demikian banyak. Ia memberikannya sendiri dan perbendaharaan Allah tidak akan pernah habis. Allah telah menegaskan hal ini dalam banyak ayat, diantaranya dalam surat Al-Baqarah ayat 116-117 yang artinya,

Mereka (orang-orang kafir) berkata, “Allah mempunyai anak.” Mahasuci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya. Allah adalah Pencipta langit dan bumi, dan jika Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka Dia hanya (cukup) berkata kepadanya “jadilah”, lalu jadilah ia.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini turun untuk membantah klaim umat Nasrani secara khusus dan umat-umat lain yang meyakini keyakinan yang sama. Apabila Allah memiliki anak maka mestilah ada dzat atau tuhan lain yang sebanding dengan Allah sebagai pasangannya. Dan apabila terdapat dzat yang sebanding dengan Allah maka tuhan menjadi dua kemudian menjadi tiga setelah kelahiran tuhan anak. Hal ini tegas-tegas berseberangan dengan isi surat Al-Ikhlas, dimana Allah menegaskan tentang diri-Nya. Bahwa Ia adalah satu, satu-satunya tempat memohon, tidak melahirkan dan tidak dilahirkan, dan tidak akan pernah ada yang sebanding dengan-Nya.

Di ayat berikutnya (117) Allah menerangkan bahwa Ia menciptakan langit dan bumi. Satu hal yang luar biasa dari ayat ini adalah Allah menggunakan kata بَدِيْعُ yang berarti Pencipta sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Ibnu Katsir dalam tafsir ayat ini menjelaskan bahwa arti dari “Allah Pencipta langit dan bumi” adalah Dia-lah pencipta keduanya tanpa adanya contoh sebelumnya.

Kata بَدِيْعُ sendiri berasal dari بَدَعَ- يَبْدَعُ- بَدْعًا yang berarti mengadakan sesuatu yang baru. Maka dapat diambil kesimpulan bahwa sebelum Allah menciptakan langit dan bumi, maka kedua hal tersebut tidak pernah ada.

English

Español

2 Comments Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s