Tribute To My Beloved Parents

parents

Birrul walidayn atau berbakti kepada kedua orang tua memang sebuah hal yang mudah untuk diucapkan. Mudah pula untuk dishare dalam tulisan-tulisan. Bahkan mudah pula untuk dicari dalam buku-buku maupun pengajian. Meskipun demikian, ia bukanlah suatu hal yang dapat dilakukan dengan mudah. Banyak tantangan untuk menerapkannya, sebagaimana butuh perjuangan untuk menjadi seorang anak yang berbakti kepada kedua dua orang tua.

Tak jarang seorang anak memiliki pandangan yang berseberangan dengan satu atau kedua orang tuanya. Tak jarang seorang anak yang memang berbakti para orang tuanya harus sedikit menolak dengan santun ajakan orang tuanya yang berbeda agama untuk beribadah bersama. Tak jarang seorang anak merasa kesal karena orang tuanya senantiasa memaksakan kemauan. Rasanya ingin berontak dan melawan. Ingin mengatakan dengan tegas untuk berpisah jalan. “ini jalanku, silakan ayah dan ibu menempuh jalan kalian sendiri.”

Seorang anak sering melihat dari perspektif manusia merdeka yang menuntut kesamarataan dalam tiap hal. Tanpa kasta dan tanpa status, seolah kedua orangtuanya tak berbeda dengan rekan-rekan sebaya. Ketika seorang anak telah mencapai usia dewasa ia pun bebas menentukan nasibnya, mencurahkan perhatian pada kekasih, rekan-rekan, dan karirnya; sementara orang tua hanya dua manusia tua yang dikunjungi setahun sekali. Ini realita yang hidup di dunia kita. Sedikit atau banyak, anda setuju atau tidak, namun memang ada kenyataan yang demikian. Saya menghabiskan masa remaja dalam budaya western yang kental dan sangat menghargai independensi. Maka hal yang seperti ini adalah lumrah menurut saya saat itu.

Lumrah bagi seorang penganut paham kebebasan berpikir. Namun ketika jiwa ini mulai tergelitik untuk mempelajari Islam maka sebuah perspektif baru pun menanti. Orang tua bukan sekedar sosok yang dapat ditinggalkan begitu saja ketika kita dewasa. Mereka juga bukan bagian dari masa lalu yang kita titipkan pada perawat atau panti jompo saat tidak produktif lagi. Mereka adalah bagian dari kita, sosok yang harus kita jaga semampu kita hingga ajal menjemput. Entah ajal kita duluan atau ajal mereka. Rasulullah berpesan pada kita dalam sabdanya:

يدخل الجنةَرغَمَ أَنْفُ، ثُمَّ رغَمَ أَنْفُ، ثُمَّ رغَمَ أَنْفُ. قِيْلَ: مَن يَا رَسُولُ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ أَدْرَكَ أَبْويه عند الكبرِ، أَحَدَّهُمَا أو كليْهما فلم

Kehinaan, kehinaan, kehinaan.” Para sahabat bertanya: “Siapa wahai Rasulullah?” Nabi Menjawab: “Orang yang mendapati kedua orang tuanya masih hidup ketika mereka sudah tua, baik salah satunya atau keduanya, namun orang tadi tidak masuk surga.” (HR. Muslim 2551)1

An-Nawawi menjelaskan bahwa hadits tersebut merupakan petunjuk jelas betapa besarnya pahala yang akan diraih seorang yang berbakti pada kedua orang tuanya. Sebaliknya, kehinaan dan kerugian akan menanti orang yang tidak berbakti pada kedua orang tuanya, terlebih apabila mereka telah mencapai usia renta.

Demikian pentingnya birul walidayn hingga Allah mengulang-ulang perintah ini dalam banyak ayat, seperti di dalam surat Al-Isra ayat 23,

وَ قَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوْا إِيَّاهُ وَبِالْ وَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.

Perintah senada juga dapat kita temui di surat Al-Baqoroh 83, An-Nisaa 36, Al-Ankabut 8, serta Luqman 14-15. Belum lagi hadits-hadits yang memerintahkan hal yang sama. Banyak dan menarik bagi siapapun yang ingin memperdalam ilmu tentang birrul walidayn.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s