Meluruskan Niat

dock.jpg

Ada saat dimana kita silaf. Ibadah yang harusnya diniatkan hanya untuk Allah ternyata dipamerkan pada orang yang bahkan tidak ingin mengetahuinya. “Alhamdulillah baru selesai sholat Dhuha nih.” tulis seserang di  jejaring sosial. Apakah Tuhan harus diberitahu lewat media sosial atau tanpa melapor di media sosial maka ibadah menjadi tidak afdhal? Lalu apakah Tuhan akan men-like statusmu atau para netizen yang akan berkomentar?

Kesenangan Terhadap Dunia

Sudah menjadi fitrah manusia untuk tertarik pada lawan jenis, harta, kekayaan, kendaraan mewah, rumah bagus, ketenaran, pujian, perhatian orang lain, pangkat, anak-anak, dan apapun yang menjadi bagian dari keindahan dunia. Kesenangan terhadap hal-hal tersebut tidak mungkin terjadi bila manusia tidak punya syahwat dam dengan syahwat ini pula manusia berusaha untuk mendapatkan hal-hal yangdiinginkannya. Kesenangan manusia terhadap hal-hal duniawi ini Allah jelaskan dalam surat Ali Imran ayat 14 yang artinya,

Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, be rupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas  dan perak, kuda pilihan, hewan-hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup  di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.

Di surat Al-Kahfi ayat 46 juga ada ayat sejenis yang artinya, “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.

Dengan adanya penjelasan dari Tuhan semesta alam bahwa manusia dijadikan senang terhadap hal-hal keduniawian maka tidaklah mengherankan bila kita berusaha sebaik mungkin untuk menggapainya. Bedanya, ada sebagian manusia yang mencari kesenangan-kesenangan duniawi dengan cara yang dihalalkan oleh Allah dan adayang meraihnya tanpa mempedulikan cara yang halal maupun haram.

Salah satu nikmat dunia yang sering dikejar adalah popularitas, karena dengan memiliki hal yang satu ini biasanya ia akan mendapat perhatian, dihormati banyak orang, kata-katanya dipatuhi, banyak lawan jenis yang mengantre untuk dijadikan pendamping, order bisnis mengalir, dan lain-lain. Masalahnya adalah apakah semua orang mendapat popularitas yang ia kejar?

Ada sebagian orang yang tidak ingin terkenal justru menjadi popular karena keluhuran akhlaknya, kebesaran jasanya, atau penemuan yang bermanfaat bagi banyak orang. Ada orang yang memang mengejar popularitas dan ia mendapatkannya. Yang paling naas adalah orang yang mengejar popularitas namun ia justru menjadi bahan tertawaan, cacian, hinaan, dan olok-olok banyak orang padahal ia sudah menghalalkan berbagai cara termasuk mempermalukan diri sendiri untuk menggapai popularitas.

Motivasi atau Promosi?

Apapun status yang kita tampilkan, sudah tentu berangkat dari yang namanya niat. Mustahil seseorang melakukan atau mengatakan sesuatu tanpa niat -kecuali bila ia mengigau atau kesurupan-. Adanya niat di balik perbuatan atau perkataan kita bahkan telah disabdakan oleh Rasulullah dalam hadits yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab; yang artinya, “Sesungguhnya setiap amal itu tergantung niatnya dan setiap orang akan mendapatkan apa  yang  diniatkannya…

Kita berprasangka baik bahwa siapapun yang memajang status-status motivasi tidak memiliki tujuan selain mengharapkan ridho Allah. Meskipun demikian, tidaklah ada salahnya untuk merenungi hadits dari Abu Hurairah berikut ini,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ z قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ : إِنَّ اَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ ِلأَنْ يُقَالَ جَرِيْءٌ, فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ, وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأََ اْلقُرْآنَ فَأُُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيْكَ اْلقُرْآنَ, قَالَ:كَذَبْتَ, وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ وَقَرَأْتَ اْلقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِىءٌٌ ، فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ, وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَاَعْطَاهُ مِنْ اَصْْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: مَاتَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيْهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيْهَا لَكَ, قَالَ: كَذَبْتَ ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيْلَ, ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ.

رواه مسلم  وغيره

Orang yang pertama kali diadili pada Hari Kiamat adalah tiga golongan: Pertama orang  yang dianggap mati syahid. Dia didatangkan, nikmat-nikmatnya diperkenalkan dan dia pun  mengenalnya. Allah bertanya kepadanya “Apa yang engkau lakukan saat itu?” orang itu menjawab, “Aku berperang karena Engkau hingga aku terbunuh.” Allah berfirman,  “Engkau dusta. Tetapi engkau berperang agar dikatakan, ‘Dia seorang pemberani’, dan memang begitulah yang dikatakan orang-orang.” Kemudian turun perintah agar wajahnya  ditelungkupkan lalu dilemparkan ke dalam neraka.” Kedua. Orang yang mempelajari ilmu dan megnajarkannya serta membaca Al-Qur’an. Dia  didatangkan, nikmat nikmatnya diperkenalkan dan dia pun mengenalnya. Allah bertanya kepadanya “Apa yang engkau lakukan saat itu?” orang itu menjawab “Aku mempelajari ilmu karena Engkau, mengajarkannya dan membaca Al-Qur’an karena Engkau.. Allah berfirman, “Engkau dusta. Tetapi engkau mempelajari ilmu agar engkau dikatakan, ‘Dia adalah orang yang berilmu’, dan memang begitulah yang dikatakan orang-orang. Engkau  membaca Al-Qur’an agar dikatakan, ‘Dia adalah seorang qari” dan memang begitulah yang dikatakan orang-orang.” Kemudian turun perintah agar wajahnya ditelungkupkan lalu dilemparkan ke dalam neraka.Ketiga. Orang yang diberi kelapangan oleh Allah. Dia melimpahinya segala jenis kekayaan.  Dia didatangkan, nikmat-nikmatnya diperkenalkan dan dia pun mengenalnya. Allah bertanya kepadanya “Apa yang engkau lakukan saat itu?” orang itu menjawab “Aku tidak meninggalkan suatu jalan yang Engkau suka agar dikeluarkan nafkah padanya, melainkan aku menafkahkannya karena Engkau.” Allah berfirman, “Engkau dusta. Tetapi engkau berbuat seperti itu agar engkau dikatakan, ‘Dia adalah orang yang murah hati dan memang begitulah yang dikatakan orang-orang.” Kemudian turun perintah agar wajahnya  ditelungkupkan lalu dilemparkan ke dalam neraka.1

 

Apabila rasulullah yang kita akui sebagai suri teladan saja diperintahkan untuk mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah, maka apakah kita yakin sudah pasti ikhlas? Apabila rasulullah yang telah dijamin masuk surga saja beristighfar minimal 70 kali dalam sehari, apakah kita layak untuk tidak meneladani beliau?

 

1Hadits ini diriwayatkan oleh :
1. Muslim, Kitabul Imarah, bab Man Qaatala lir Riya’ was Sum’ah Istahaqqannar (VI/47) atau (III/1513-1514 no. 1905).
2. An Nasa-i, Kitabul Jihad bab Man Qaatala liyuqala : Fulan Jari’, Sunan Nasa-i (VI/23-24), Ahmad dalam Musnad-nya (II/322) dan Baihaqi (IX/168). Sumber: https://almanhaj.or.id/2724-riya-dan-bahayanya.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s