Di Balik Kegalauan

ruin.jpg

Ketika jiwa diliputi kegalauan maka kemana kita mencari jalan keluar? Kepada siapa kita mengadu? Kepada orang pintarkah? Atau kepada orang yang tidak pernah sholat? Lalu nasihat apa yang mereka berikan?

Membaca wirid ribuan kalikah? Atau puasa berhari-hari tanpa berbuka? Atau bersemedi di suatu tempat yang dianggap suci? Kemudian kita mengeluarkan sejumlah uang sebagai infaq?

Setelah saran-saran itu diamalkan lalu apa yang kita dapat? Ketenangan batinkah? Kedamaian? Atau hanya ledak tangis yang melegakan jiwa sesaat sebelum mendung hati kembali melanda? Sungguh, masalah tak harus datang dari luar; karena boleh jadi ia datang dari dalam diri. Bukankah rasulullah bersabda,

كل ابن ادم خطاء، و خير اخطاىين التوابون

“Setiap anak Adam berdosa dan yang terbaik diantara orang-orang yang berdosa adalah yang bertaubat.”1

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah, salah satu sumber kegalauan hati adalah dosa yang berasal dari maksiat. Setiap manusia pasti melakukan dosa, termasuk nenek moyang kita nabi Adam sebagaimana yang dijeaskan dalam surat Al-A’rof 23 yang artinya, “Keduanya berkata “Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” dan ternyata Allah menerima taubat mereka (Al-Baqoroh 37) yang artinya, “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Rabb-nya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

Demikianlah contoh yang diajarkan oleh ayah kita, Adam. Maka tidakah sepantasnya bagi kita untuk mengikuti jejaknya untuk bertaubat dari maksiat yang kita lakukan? Atau kita merasa diri tidak pernah dan tidak akan pernah berbuat dosa?

Boleh jadi seseorang mengatakan, “Ah mana mungkin dosa menyebabkan hati kita galau!” maka silahkan merujuk pada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah berikut ini:

اِنَّ المؤمِنَ اِذَا اَذْنَبَ ذَنْبًا نُكِتَ فِي قَلبِه نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإذَا تَابَ وَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرُ قَلْبُهُ، وَ اِنْ ذَادَتْ، حَتَّىتَعلُوو قَلبَهُ، فَذٰلِكَ الرّانُ الَّذِي ذَكَررَ اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ، (كَلَّا بَالْ رَانَ عَلَى قُلُبِهِمْ مَّا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Jika seorang mukmin berbuat satu dosa, maka diberikan satu titk hitam dalam hatinya. Apabila Ia bertaubat, meninggalkan dosa tersebut, dan memohon ampunan, maka hatinya mengkilap kembali. Sekiranya ia bertambah melakukan dosa, titik hitam itu juga bertambah, hingga akhirnya menutupihatinya. Iniah tutup yang disebutkan Allah: ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.‘ (QS. Muthaffiffin: 14)2

Selain menimbulkan kegelisahan jiwa, dosa dan maksiat pun memiliki dampak lain seperti seretnya rezeki, merasa kesepian dalam hidup, segala urusan menjadi sulit, tubuh menjadi lemah dan sering sakit, mudah marah akibat hal-hal sepele, serta cenderung untuk menolak atau melecehkan ayat-ayat Allah. Bila kita temui dalam diri adanya tanda-tanda tersebut maka alangkah baiknya untuk segera bertaubat.

Saatnya kembali pada Allah

صِبْغَةَ اللهِ. وَ مَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللهِ صِبْغَةً. وَ نَحْنُ لَهُ عٰبِدُوْنَ

“Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari Allah? Dan hanya kepada- Nya-lah kami beribadah.” (Al-Baqarah: 138)

Para pembaca yang budiman, selagi nafas belum berhenti maka marilah kita kembali pada Allah karena hanya Ia-lah yang dapat menghilangkan berbagai kesulitan yang menimpa kita. Yang Ia minta hanyalah agar kita menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Bila seseorang memang menginginkan jalan keluar dari kegundahan dan kesulitan yang terus menghantam dari waktu ke waktu maka bertaubatlah. Dan perdalam pula ilmu tauhid dengan cara mentadaburi ayat-ayat Allah. Karena tanpa keduanya mustahil hidup kita akan tenang. Tanpa taubat, kegelisahan akan terus menghantui dan tanpa ilmu tauhid maka kita tidak akan pernah mengenal siapa itu Allah dan apa yang Ia kehendaki dari hamba-hamba-Nya.

1Dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, Darimi, Abu Naiym, Al-Hakim. Shahih. Shaikh Sholih Al-Utsaimin, Kitabul Ilm, hal. 43.

2Diriwayatkan oleh Ahmad (II/97), at-Tirmidzi (no. 3334), Ibnu Majah (no. 4244), al-Hakim (II/517), an-Nasa’i dalam at-Tafsiir (no. 678), dan ‘Amalul Yaum wal Lailah (no. 418), serta Ibnu Hibban dalam Shaiih-nya (n0. 1771) dengan sanad hasan. Al-Jauziyah, Ibnu Qayyim, Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hal. 130. Jakarta: Pustaka Imam Syafi’i, 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s