Ruqyah Yang Syar’i

tching-herbs

Ada saat dimana seseorang hampir menyerah. Rumah sakit demi rumah sakit telah dikunjungi. Dokter demi dokter pun telah berupaya mengobatinya. Demikian pula para tabib bahkan dukun. Namun kesembuhan belum datang jua. Maka mohonlah petunjuk Allah dan cobalah untuk meruqyah diri sendiri dengan cara yang diizinkan secara syariat. Lalu apa itu ruqyah?

Ia adalah pengobatan dengan cara membacakan sesuatu pada orang yang sakit atau diri sendiri. Ruqyah terbagi menjadi dua yaitu ruqyah syar’iyyah (pengobatan dengan membacakan ayat-ayat Al-qur’an atau doa-doa yang berasal dari hadits shahih; berdasarkan riwayat yang shahih dan sesuai dengan ketentuan yang disepakati para ulama) serta ruqyah non syar’iyyah (ruqyah dengan menggunakan bacaan mantra, jimat, bahasa Arab yang bukan dari Al-Qur’an atau hadits shahih, dan tidak pernah dicontohkan oleh rasul dan para sahabat).

            Dengan izin Allah, setiap muslim dapat meruqyah dirinya sendiri atau orang lain dengan syarat ia tidak menyekutukan Allah dengan apapun, memiliki keyakinan yang tinggi bahwa Allah akan menolongnya, tidak melakukan perbuatan syirik seperti pergi ke dukun, percaya pada jimat, ngalap berkah ke kuburan atau tempat-tempat yang dikeramatkan, tidak melakukan ibadah yang tidak dicontohkan oleh rasulullah, tidak suka maksiat seperti menipu, makan riba, makan yang haram, dan meninggalkan sholat.

            Salah satu cara meruqyah diri sendiri dan melindungi diri dari gangguan jin, santet, pelet, atau ayn (hipnotis) adalah dengan sering membaca Al-Qur’an, karena Allah berfirman:

يٰأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاٰءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَ شِفَاٰعٌ لِّمَا فِى الصُّدُوْرِ وَ هُدًى وَ رَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْن

“Wahai manusia! Sungguh, telah datang pelajaran kepadamu pelajaran dari Rabbmu, penye mbuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang  beriman.” (Yunus: 57)

Juga dalam sebuah hadits dikatakan

اِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيْبُهُ

Sesungguhnya seseorang itu benar-benar terhalang dari rizki karena dosa yang dilakukannya.”[1]

Diantara cara meruqyah diri sendiri

            Usap bagian tubuh yang sakit seraya membaca:

بِسْمِ اللهِ

Dengan menyebut nama Allah (3x)

اَعُوْذُ بِا اللهِ وَ قُدْرَتِهِ، مِنْ شَرِّ مَا اَجِدُ وَ اُحَاذِرُ

Aku berlindung kepada Allah dan kepada kekuasaan-Nya dari kejahatan apa yang aku dapati dan yang aku khawatirkan (7x)

اَللّٰهُمَّ رَبَّ النٰاسِ اَذْهِبِ البَأْسَ وَاشْفِهِ، وَ اَنْتَ الشَّافِيْ، لَا شِفَاءَ اِلَّا شِفَاؤُكَ. شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا

Ya Allah Rabb Pemelihara manusia, hilangkanlah penyakit ini dan sembuhkanlah. Engkau-lah Yang Maha Menyembuhkan, tidak ada kesembuhan melainkan hanya kesembuhan dari-Mu,

kesembuhan yang tdak meninggalkan sedikit pun penyakit (1x)[2]

Diantara cara meruqyah orang lain

            Sentuh bagian tubuh orang yang sakit dan bacakan (wanita dan pria yang bukan mahram tidak boleh saling bersentuhan, jadi gunakan alat seperti pulpen, kertas, kayu, dll. Yang penting tidak menyentuh dengan tangan langsung.) dan baca:

اَسْأَلُ اللهَ العَظِيْمَ، رَبَّ العَرْش العَظِيْمِ، اَنْ يَشْفِيْكَ

Aku mohon kepada Allah Yang Mahaagung, Rabb ‘Arsy yang agung, agar Dia menyembuhkanmu (7x)

لاَ بَأْسَ طَهُوْرٌ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى

Tidak mengapa, semoga sakitmu ini membuat dosamu bersih, insya Allah Ta’ala (1x)

بِسْمِ اللهِ يُبْرِيْكَ، وَ مِنْ كُلِّ دَاءٍ يَسْفِيْكَ، وَ مِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَ حَسَدَ، وَ شَرِّ كُلِّ ذِيْ عَيْنٍ

Dengan menyebut Nama Allah, mudah-mudahan Dia membebaskan dirimu dari segala penyakit, mudah-mudahan Dia akan menyembuhkanmu, melindungimu dari kejahatan orang dengki jika dia mendengki dan dari kejahatan setiap orang yang mempunyai mata jahat (1x)

[1]    HR Ibnu Majah (no.4402), al-Hakim (I/493), Ibnu Abi Syaibah (x/442), at-Thahawi dalam al-Musykil, dan al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (XIII/6). Dari sahabat Tsauban. Al-Jauziyyah, Ibnu Qayyim. Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’ hal 109. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i 2009.

[2]    Shahih: HR Al-Bukhari (no.5743/al-fath X/206) dab Muslim (no.2191 (46-49)), dari Aisyah. Lafazh ini adalah lafazh al-Bukhari. Do’a & Wirid hal.410. Abdul Qadir Jawas, Yazid bin. Jakarta: Pustaka Imam Syafi’i, cetakan pertama Muharram 1423 H / April 2002 M.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s