Money Changer

“Oke Thank you very much.” kata pak Bambang. Kakek tua itu pun tidak lupa tos dengan sang kasir. Mini market tadi merupakan tempat kesekian yang menolak uang kami. Bayangkan, uang asli bernilai setidaknya Rp. 50.000 atau Rp. 100.000 ditolak. Maka jadilah kami berjalan dengan ogah-ogahan. Saya, Babeh Ratib, Pak Toyo, dan Pak Bambang terpaksa kembali ke hotel dengan tangan hampa. Gagal sudah rencana menyeruput kopi sambil menikmati senja Bangkok. Masalahnya sederhana, kami gagal menemukan money changer atau bank untuk menukar Rupiah ke Baht sementara setiap market yang kami singgahi ogah menjual kopi dengan bayaran Rupiah. “Baht only.” kata seorang pramusaji dengan Inggris terbata-bata.

money-changer

Money changer atau penukar mata uang sudah ada sejak jaman sebelum masehi. Mulanya orang-orang yang berprofesi sebagai penukar uang biasa duduk di pasar-pasar atau tempat-tempat dimana saudagar asing melintas. Karena para pedagang asing umumnya datang ke suatu negeri tidak membawa uang lokal sementara pembayaran di suatu negeri harus menggunakan mata uang yang berlaku di tempat tersebut maka mereka pun membutuhkan orang-orang yang bersedia menukarkan uangnya dengan uang mereka. Nah, disinilah peran penukar uang muncul.

Penukaran uang zaman dulu amat sederhana, cukup menukar koin asing dengan koin lokal dengan berat yang sama. Meskipun demikian, kadang terjadi pula perbedaan nominal uang dikarenakan bentuk uang yang sudah tidak baik (agak penyok) atau setelah diperiksa kadar emasnya kurang. Inilah yang membuat adanya selisih nilai tukar, sebagaimana yang juga terjadi di beberapa money changer zaman sekarang. Uang yang sudah lecek atau pernah terendam air biasanya dihargai kurang.

Selain kondisi fisik uang, selisih nilai tukar juga dipengaruhi oleh kekuatan sebuah mata uang terhadap perdagangan di suatu tempat. Contoh: di Amerika Serikat yang berlaku untuk proses pembayaran adalah US Dollar. Entah untuk naik taxi, belanja di toko, makan di restoran, bersedekah ke pengemis, membeli tiket pesawat, dll harus menggunakan mata uang US Dollar. Bila kita menyodorkan Rupiah maka mayoritas penjual akan menolaknya dan meminta Dollar. Contoh lain: kita membeli roti seharga US$. 2 yang kurang lebih setara dengan Rp. 26.000. Meskipun kita ngotot menerangkan bahwa Rp. 26.000 setara dengan US$. 2 maka si penjual berhak untuk menolak uang yang kita sodorkan karena secara umum yang berlaku disana bukan Rupiah. Suka atau tidak suka kita harus menukar Rupiah kita ke Bank atau Money Changer.

Dalam skala perekonomian yang lebih besar, selisih mata uang juga tercipta akibat banyaknya komoditi yang dipasarkan oleh suatu negara yang disertai oleh kewajiban untuk membeli produk tersebut dengan mata uang yang ditentukan oleh negara pengekspor. Contoh: kita memesan suatu produk dari luar negeri seharga US$. 100 dan wajib dibayar dengan US$. Akibat adanya syarat pembayaran tadi maka mau tidak mau kita menukar Rupiah dengan US Dollar.

Hukum tukar-menukar uang

Menukar uang dengan uang lain bisa menjadi riba atau tidak tergantung penerapannya. Contoh:

  • Menukar uang Rp. 10.000 dengan Rp. 11.000 pada saat yang sama seperti yang sering dipraktekkan warung-warung rokok pinggir jalan maka hal tersebut termasuk riba fadhl.1 Riba fadhl sendiri berarti menukar salah satu dari 6 jenis harta riba (emas, perak, kurma, gandum, gandum jenis murah dan garam) dengan yang sejenis dan ukuran berbeda.
  • Menukar 1 gram emas Jakarta dengan 1 gram emas Saudi dengan cara tidak tunai, yakni emas Jakarta diserahkan sekarang namun emas Saudi baru diberikan besok. Hal ini disebut riba nasi’ah. Riba nasi’ah sendiri berarti menukar salah satu harta riba dengan harta riba lainnya yang sejenis atau berlainan jenis akan tetapi ‘illatnya sama (yaitu: emas dan perak illatnya alat tukar. Kurma, gandum, sya’ir, dan garam illatnya makanan pokok dan tahan lama) dengan cara tidak tunai.

Kedua jenis riba tersebut dikenal dengan nama riba ba’i atau riba yang objeknya adalah akad jual-beli. Dalil dari hal ini ada dalam hadits Ubaidah bin Shamit, bahwa Rasulullah pernah bersabda:

الذَّهَبُ بِاالذَّهَبِ، وَ اَلفِضَّةُ بِالْفِضَةِ، وَالْبُرُّ بِالْبُرَّ، وَ الشَعِيْرُ بِالشَعِيْرِ، وَ التَمْرُ بِا التَمْرِ، وَ الْمِلحُ بِا الْمِلحِ، مِشْلًا بِ مِشْلٍ، سَوَا ءً بِ سَوَا ءٍ، يَدًا بِ يَدٍ، فَاِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الْاَصْنَافُ، فَبِعُوا كَيْفَ شِعْتُمْ اِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ.

“Emas ditukar dengan emas, perak ditukar dengan perak, gandum ditukar dengan gandum, dan sya’ir ditukar dengan sya’ir, kurma ditukar dengan kurma, garam ditukar dengan garam, haruslah sama ukuran dan takranya serta tunai. Apabila jenisnya berbeda, ukurannya juga boleh berbeda dengan syarat tunai.”2

Riba Dayn

Selain Riba Ba’i yang terbagi menjadi dua, juga terdapat riba lain yang dikenal dengan riba dayn, dimana pemberi hutang mensyaratkan adanya kelebihan bayaran pada peminjam. Riba jenis ini mudah kita temui dalam kehidupan sehari-hari mulai dari bank besar hingga bank keliling. Contoh sederhana dari riba dayn adalah ketika seorang rentenir meminjamkan uang sebesar Rp.100.000 dengan syarat si peminjam harus membayar pinjaman sebesar Rp. 110.000. Penambahan nilai sebesar 10% atau Rp. 10.000 inilah ribanya.

Yang lebih canggih lagi adalah riba dengan cara pemotongan di muka. Contoh: Pak fulan meminjam Rp. 100.000 pada rentenir dengan bunga 10%. Setelah penandatangana akad, si rentenir hanya menyerahkan uang Rp. 90.000 pada pak fulan dengan alasan Rp. 10.000 digunakan untuk administrasi. Maka jadilah si pak fulan harus membayar Rp. 110.000 padahal ia hanya meminjam Rp. 90.000.

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah, marilah kita memohon perlindungan Allah agar tidak terjerat riba’ atau bahkan menghalalkannya karena Ia berfirman dalam surat Al-Baqarah 275:

وَ اَحَلَّ اللهُ الْبَيْعُ وَ حَرَّمَ الرِّبَا

“Sesungguhnya Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”

Ayat-ayat yang menyatakan keharaman riba juga terdapat di Al-Baqarah 278-9 dan An-Nisaa 160-1. Adapun bagi mereka yang terjerat riba, semoga Allah berikan mereka jalan keluar dari urusan tersebut. Allahuma aamiyn.

1Tarmizi, Dr. Erwandi. Harta Haram Muamalat Kontemporer, hal. 429. Bogot: PT. Berkat Mulia Insani. Cetakan pertama Februari 2012

2HR. Bukhari. https://almanhaj.or.id/4045-riba-nasi-ah-riba-fadhl-jual-beli-emas-lama-dengan-emas-baru.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s