Ketika Hasil Tak Sesuai Harapan

garden

Terkadang kita sulit menerima kenyataan bila ia tak sesuai harapan. “Kok bisa sih? Bukankah saya telah meakukan yang terbaik? Saya kan selalu berdoa? Saya kan telah memenuhi semua persyaratan?”

Seringkali harapan yang tak terpenuhi menjadikan kita berpikir tidak relevan. Nasihat dari orang-orang tercinta tak digubris. Ajakan untuk merenung dianggap angin lalu. “Mustahil saya salah! Sudah jelas saya yang benar! Orang lain bisa saja keliru tapi saya tidak!”

Tak jarang seseorang dikuasai ego menjelma menjadi ‘sosok yang sempurna’. Tidak pernah salah, tidak ada cacat, mengetahui segalanya, bahkan menjadi pusat semesta. “Ini pasti ada kecurangan! Mereka pasti salah memprediksi! Diagnosanya pasti ngawur! Ia belum pantas mati! Seharusnya Tuhan tidak mencabut nyawanya terlalu cepat!”

Demikianlah kondisi hawa nafsu yang lepas kendali. Ia akan membawa pemiliknya untuk melakukan apa saja demi menghilangkan dahaga jiwa. Tidak peduli batasan syar’i atau hukum-hukum kenegaraan. Yang penting adalah memperturutkan apa kata hati.

Menunjuk orang lain sebagai biang kegagalan kita memang lebih mudah daripada merenungkan kekurangan-kekurangan diri. Mencari kambing hitam pun jauh lebih nikmat daripada menyadari kenyataan bahwa ada sosok yang jauh lebih kuat dan lebih berkuasa daripada kita. Ia tak lain adalah Allah Robb al-alamiyn.

Benarkah kita yang paling tahu? Atau Allah yang paling tahu? Coba kita lihat surat Al-Baqarah (ayat 30-33). Ketika Allah hendak menciptakan Adam, para malaikat yang berada dekat dengan Allah dan tidak pernah bermaksiat pun bertanya, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di muka bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah. Padahal kami telah senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?

Satu hal yang wajib dipahami oleh seorang muslim bahwasanya pertanyaan para malaikat itu bukanlah sebuah kritik atau rasa ragu terhadap kebijakan Allah. Mereka bertanya karena ingin mendapat petunjuk dari Tuhan semesta alam.

Allah pun menjawab pertanyaan malaikat dengan jawaban yang singkat dan lugas; sebuah pernyataan yang wajib diimani oleh setiap muslim,

إنِّى أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُوْنَ

Aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui.

Malaikat yang tinggal dekat dengan Allah dan tidak pernah bermaksiat pada-Nya bahkan tidak mengetahui apa yang Allah takdirkan dibalik penciptaan-Nya. Lalu apakah kita yang hidup di dunia ini beberapa puluh tahun saja lebih tahu dari para malaikat? 

Jangankan malaikat, bahkan rasulullah yang pernah dimi’rajkan saja tidak mengetahui hikmah di balik penciptaan Allah. Beliau yang utusan Allah dan dipastikan masuk surga pun tidak memiliki pengetahuan tentang hal yang ghaib kecuali melalui apa yang diwahyukan pada beliau.

قُلْ لَّا أَقُوْلُ لَكُمْ عِنْدِى خَزَاءِنُ اللهِ وَ لٰا أَعْلَمُ أَلْغَيْبَ وَ لٰا أَقُوْلُ لَكُمْ إِنِّى مَلَكٌ. إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوْحَ إِلَىَّ

Katakanlah: ‘Aku tidak mengatakan kepadamu bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku ini Malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang telah diwahyukan kepadaku… (QS: Al-An’am: 50)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s