Takbiran di Makkah

Ba’da isya’ menara zam-zam menembakkan laser hijau ke berbagai penjuru. Didahului oleh pengumuman pemerintah di televisi, manusia pun ramai-ramai bertalbiyah. Ya, esok satu Syawal.

Telepon umar sekali lagi berdering. Pak sholeh tiada bosan mengingatkan kami bahwa malam ini ada janji dengannya di sebuah taman di Makkah. Lima kilo daging kambing dan sekeranjang lontong telah menunggu.

Kami pun berenang di jalan yang demikian padat. Macet luar biasa dan supir taksi menaikkan tarif gila-gilaan untuk jarak yang tak terlalu jauh. Tapi janji tetap janji. Berapapun harganya kami bayar.

Di taman yang dimaksud karpet-karpet telah dihamparkan sementara beberapa orang dewasa sibuk menyiapkan makanan. Anak-anak asyik bermain trampolin, perosotan, kuda-kudaan, atau lari di joging track warna merah.

Tak lama berjalan kami berjumpa dengan Pak sholeh, istri, dan ketiga anaknya. Tak lama datang pula tiga mahasiswa Ummul Quro serta ustadz Mukti Ali dari Lombok.

Sementara ibu saya sibuk dengan istri dan anak-anak Pak Sholeh, Umar berbincang dengan gurunya (Ustadz Mukti). Saya dan ketiga mahasiswa sibuk memanggang sate yang tak ada habis-habisnya. Adapun Pak sholeh sibuk mondar-mandir antara ketiga tempat, bak seorang Playmaker yang mengatur irama permainan sepak bola.

Pesta pun dimulai. Sate dan gulai terasa demikian lezat sementara cerita dari Ustadz Mukti demikian menarik.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s