Mabit di Muzdalifah

jamaah_haji_di_muzdalifah_100716161507

Waktu maghrib pun tiba, dengan demikian berakhir pula wukuf. Alhamdulillah, menyelesaikan wukuf berarti menyelesaikan salah satu wajib haji yang tidak boleh ditinggalkan. Siapa yang tidak mengikuti maka tidak ada haji baginya.

Sementara langit biru perlahan menjadi hitam, orang-orang pun bergembira. Diantara mereka ada yang tetap khusyuk berdoa, ada yang saling mengucapkan selamat, dan ada pula yang larut dalam tangis. Kini saatnya kami berdiri untuk meninggalkan Arafah untuk menuju pemberhentian selanjutanya. Muzdalifah.

Sama halnya dengan Arafah, Muzdalifah juga merupakan sebuah tanah lapang luas berhampar pasir. Para jamaah haji singgah disini untuk bermalam atau mabit sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah.

Sesampainya di Muzdalifah kami melaksanakan sholat maghrib dan isya’ dengan cara jamak-qashar kemudian beristirahat. Sementara sebagian orang beristirahat maka ada pula para jamaah yang mengumpulkan kerikil untuk melontar jumrah. Ada pula yang mengaji dan tidak tidur.

Idealnya, para jamaah haji yang berada dalam kondisi sehat bermalam di Muzdalifah dan baru bertolak menuju Mina. Meskipun demikian sebagian jamaah haji ada yang dibawa oleh pengelola travelnya untuk meninggalkan Muzdalifah sebelum subuh dengan alasan takut macet. Padahal, yang diizinkan untuk meninggakan Muzdalifah sebelum subuh hanyalah orang-orang tua, anak-anak, dan yang dianggap tidak akan kuat untuk tinggal disana hingga tiba subuh. Ummul mukminin Aisyah meriwayatkan sebuah hadits mengenai hal ini,

وَ عَنْ عَاءِشَةَ قَالَتْ: اِسْتَأْذَنَتْ سَوْدَةَ رَسُوْلَ اللهِ لَيْلَةَ الْمُزْدَلِفَةِ أَنْ تَدْفَعَ قَبْلَهُ، وَ كَانَتْ ثَبِطَةً، تَعْنِي ثَقِيْلَةً، فَأَذِنَ لَهَ.

مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Aisyah, dia berkata, “Sauda’ meminta izin kepada Rasulullah pada waktu malam di Muzdalifah untuk berangkat lebih dahulu, karena dia wanita yang lemah yaitu jalannya berat, maka beliau mengizinkannya. Muttafaq ‘Alaih.1

1Shahih. Diriwayatkan oleh Bukhari (1680) dalam al-Hajj, Muslim (1290) daam al-Hajj. Bulughul Maram, Al-Asqalani, Al-Hafidz Ibnu Hajar, Jakarta: Pustaka As-Sunnah, cetakan 1 Desember 2007, hal. 369

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s