Arafah

wuqufbesar01

Muslim pilgrims pray on a rocky hill called the Mountain of Mercy, on the Plain of Arafat near Mecca, Saudi Arabia, Thursday, Nov. 26, 2009. (AP Photo/Hassan Ammar)

Angin bertiup menerpa wajah, sementara matahari juga tidak terlalu terik. Batu karang tempat saya duduk seolah menjadi tempat paling tepat untuk mengawasi para jamaah yang berpencar kesana-kemari bagai kumpulan partikel. Sejauh mata memandang yang tampak adalah deretan bus wana merah, biru, abu-abu, hitam, dan juga kuning. Di seberang bus-bus tadi berjejer truk-truk penjual makanan yang menyediakan es krim, air mineral, atau mie instan.

Dimana-mana tampak jamaah umroh yang berfoto ria dengan spanduk travel mereka masing-masing. Sebagian diantara mereka bahkan ada yang sibuk dengan tongkat narsisnya. Arahkan pandangan ke kamera, senyum, klik…lalu pasang di status media sosial.

Para muthawwif berkacamata menengok hitam kesana-kemari, memastikan jamaah mereka tidak terpencar jauh-jauh. Bila terlihat rombongan jamaah yang mengenakan seragam travelnya, para muthawwif itu kemudian berteriak “Ayo bapak….ibu…kumpul disini!” sambil mengibarkan bendera travel.

Saya menolehkan pandangan ke arah lain, menuju Jabal Rahmah yang tersusun dari batu-batu cadas besar warna abu-abu. Sementara kebanyakan jamaah mendaki anak-anak tangga menuju puncak bukit; sebagian yang lain (biasanya berusia lebih muda) memilih untuk memanjat tebing itu tanpa mempedulikan keamanan.

Sebagian jamaah memilih untuk mendirikan shalat sunnah namun entah mengapa mereka memilih untuk shalat di bebatuan yang curam tanpa takut terpeleset. Kami tidak merekomendasikan hal tersebut, apalagi bila sholatnya menghadap tugu di atas Jabal Rahmah dan bukannya ke arah kiblat.

Jauh di atas sana, di puncak Jabal Rahmah; sebagian jamaah menangis seraya mengusap-usap tugu sedang sebagian lainnya berdoa dengan khusyuk ke arah bangunan itu. Sebagian yang lain memiliki inisiatif untuk menempelkan fotonya atau foto kekasihnya dengan harapan hal itu dapat menyatukan mereka ke dalam bahtera rumah tangga. Yang lain, mencukupkan diri dengan berbuat vandalisme dengan cara mencoret-coret tugu “Tono love Tini”.

Sementara sebagian jamaah sibuk dengan perbuatan-perbuatan yang tidak dicontohkan oleh rasulullah tersebut; petugas-petugas pengawas Jabal Rahmah memberikan pengumuman melalui speaker-speaker yang terpasang tinggi bak tiang listrik. Mereka tak kenal lelah menjelaskan bahwa tidak ada ibadah khusus di Arafah kecuali wukuf tanggal 9 Dzulhijjah, sebagaimana yang disabdakan oleh rasulullah اَلْحَجُّ عَرَفَةٌ (haji adalah Arafah), maksudnya puncak ibadah haji adalah wukuf di Arafah. Siapa yang tidak mengikuti wukuf pada tanggal tersebut maka hajinya tidak sah dan harus diulang. Maka tak perlu heran bila pemerintah Saudi mengadakan program safari Arafah, yaitu orang-orang yang sakit dan tidak mampu untuk wukuf dibawa dengan kendaraan khusus seperti ambulans menjelang dimulainya wukuf.

Wukuf sendiri dilaksanakan di suatu tempat lapang di Arafah yang ditandai dengan papan-papan raksasa bertuliskan “Arafat starts here” dan “Arafat ends here”. Maka para yang tengah berdoa, berdzikir, sholat, atau ibadah lainnya wajib berada di dalam areal tadi hingga datangnya waktu maghrib. Selain ibadah-ibadah yang sifatnya pribadi, juga diadakan khutbah arafah baik di tenda masing-masing atau di Masjid Namirah yang letaknya tak jauh dari Arafah.

Selain menjadi tempat diselenggarakannya rukun terpenting dalam haji, Arafah juga memiliki keistimewaan lain yang lagi-lagi terkait dengan ibadah haji. Rasulullah bersabda,

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكثَرَ مِنْ أَنْ يَعْتِقَ اللهُ فِيْ مِهِ عَبِيْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَ إِنَّهُ لَيَدْنُوْ عَزَّ وَ جَلَّ ثُمَّ يُبَاهِيْ بِهِمُ المَلَاءِكَةِ

فَيَقُوْلُ: مَا ذَا أَرَادَ هَؤُلَاءِ

Tiada hari yang lebih banyak Allah memerdekakan hamba-hamba-Nya dari siksa neraka melainkan pada hari Arafah dan sesungguhnya Allah mendekat kebumi seraya membanggakan mereka dihadapan para malaikat-Nya seraya berfirman, “Dan mereka sesuai apa yang mereka inginkan.1

Saya menoleh kembali ke arah yang lain. Kini di hadapan saya tampak seorang jamaah saya yang tengah duduk di atas seekor unta yang membawa tandu. Wajahnya yang bulat menampakkan kebahagiaan luar biasa seiring hitungan “satu, dua, tiga” yang dilakukan seorang badui yang memfotonya. Satu foto, dua foto, setelah itu saya alihkan pandangan ke hamparan pasir putih Arafah.

Mendadak terdengar suara ribut-ribut dari arah kiri saya. Ternyata jamaah tadi terlibat cekcok dengan tukang foto badui yang gamis putihnya telah terkena debu dimana-mana. “Astaghfirullah, apa pula ini?” kata saja dalam hati seraya turun dari batu dan menghampiri keduanya.

“Ada apa pak?” tanya saya.

Bapak tadi menjelaskan bahwa ia difoto tiga kali dengan perjanjian harga sekali foto adalah 10 real. “Saya bayar 50 real tapi dia enggak ngasih kembaliannya.”

Saya pun berpaling pada si badui, “Benar dia kamu foto tiga kali?”

Dengan penuh kebanggaan yang menjadi ciri khas orang badui ia pun berkata, “Betul.”

“Sekali foto sepuluh real?”

“Betul.”

“Nah, berarti totalnya tiga puluh real.” kata saya, “Ayo berikan sisanya.”

Badui itu menggelengkan kepalanya sambil memandang saya tidak setuju, “Bukan begitu cara menghitungnya.”

“Lalu bagaimana caranya?”

“Dengan tangkas si badui pun memaparkan akal bulusnya, “Unta duduk 20 real, unta berdiri 10 real, unta duduk lagi 20 real. Jadi totalnya 50 real.”

Jujur, saya tertawa dengan kecerdikan si badui namun biar bagaimanapun hal ini merupakan suatu kecurangan, “Wahai saudaraku, kita tidak boleh menipu. Ayo kembalikan 20 real.”

Menipu sesama muslim sendiri merupakan hal yang terlarang. Demikian pula menipu orang non-muslim, hal tersebut terlarang kecuali dalam perang. Rasulullah berpesan mengenai tipu-menipu ini,

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم مر برجل يبيع طعاما ، فسأله : (( كيف تبيع؟ )) فأخبره ، فأوحي إليه : أدخل يدك فيه ، فأدخل يده ، فإذا هو مبلول ، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : (( ليس منا من غش )) رواه أحمد ولمسلم نحوه.

Abu Hurairah menceritakan bahwa suatu kali Nabi menjumpai seorang pedagang gandum, Nabi bertanya kepadanya : (( Bagaimana anda menjualnya ? )) pedagang itupun memberitahu. Kemudian Nabi mendapat wahyu saat itu, beliau memasukkan telapak tangannya kedalam timbunan gandum itu, ternyata beliau mendapati gandum itu basah ditimbun oleh gandum kering, maka beliau berkata : (( Bukan termasuk kami, siapapun yang menipu )). HR. Ahmad dan Muslim senada dgn lafadz ini.2

Si badui tetap ngeyel hingga kami pun terlibat percakapan agak panjang yang berakhir dengan sebuah win win solution. Si badui bersedia untuk memberi satu foto lagi. Saya pun bertanya pada si bapak dan ia menyetujui saran itu.

Si bapak mendapat satu foto lagi, setelah itu si badui dan untanya pergi dengan gaya sok sibuk.

1HR. Muslim no. 1348, Ibnu Majah no.3014, dan Nasa’i no. 3003. Sejarah Mekkah Al Mukarramah. Syaikh Shafiyur Rahman Al-Mubarak Furi, Riyadh: Darussalam, hal.120.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s