Masjid Quba’

quba'

Pagi itu wajah para jamaah tampak segar dan antusias. Demikian antusias hingga saya dapat merasakan keinginan kuat mereka untuk mengunjungi tempat yang akan kami tuju. Setelah beramah-tamah sebentar dengan menanyakan kabar mereka, saya pun, “Bapak ibu sudah berwudhu?”

“Sudaaaaahhhhhhh” jawab mereka kompak.

“Alhamdulillah.”

Bukan tanpa alasan apabila pagi itu kami berangkat meninggalkan hotel dalam keadaan berwudhu, karena tempat yang kami tuju memang menganjurkan pengunjungnya untuk berwudhu di rumah atau hotel. Tempat yang kami tuju bukan sembarang tempat, karena di tempat tersebut terdapat sebuah keutamaan yang tidak ada pada masjid-masjid lainnya. Lalu tempat apakah yang kami tuju? Tiada lain adalah Masjid Quba’ yang terletak beberapa kilometer dari Masjid Nabawi.

Keutamaan Masjid Quba’ dijelaskan oleh rasulullah melalu sabda beliau,

مَنْ تَطَهَّرَ فِيْ بَيْتِهِ ثُمَّ أَتَى مَسْجِدَ قُبَاءٍ فَصَلَّى فِيْهِ صَلَاةً كَانَ لَهُ كَأَجْرِ عُمْرَةٍ

Barang siapa berwudhu di rumah (penginapan)nya, lalu ia datang ke Masjid Quba’ dan shalat di sana, maka baginya sama dengan pahala umrah.1

Mendadak seorang bapak mengacungkan jari dari belakang, “kalau yang sudah batal bagaimana pak?”

“Ya tidak mengapa, insya Allah disana kita bisa mengulang wudhu kita.”

Inilah yang membedakan Masjid Quba’ dengan masjid-masjid lainnya. Memang betul bahwa apabila kita berwudhu di rumah lalu melaksanakan shalat umrah di masjid-masjid lain akan ada pahala namun demikian bukan pahala umrah. Sebaliknya, terkadang ada saja jamaah yang salah memahami maksud hadits tersebut dengan bolak-balik menuju Masjid Quba’; namun saat hendak berangkat ke Makkah orang tersebut menolak untuk ikut umrah dengan alasan, “saya sudah umrah duluan di Masjid Quba’”

Sejarah Masjid Quba’

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ يَأْتِي مَسْجِدَ قُبَاءٍ رَاكِبًا وَ مَاشِيًا فَيُصَلِّي فِيْهِ رَكْعَتَيْنِ

Dahulu, Rasulullah mendatangi Masjid Quba’ dengan berkendaraan dan juga berjalan kaki, lalu beliau shalat disana dua rakaat.2

Selain memiliki keutamaan seperti yang telah diterangkan di atas, Masjid Quba’ juga memiliki nilai historis karena merupakan salah satu masjid yang pertama kali dibangun pada masa Islam. Ketika rasulullah hijrah dari Makkah menuju Madinah beliau pun singgah di daerah Quba’ dan dengan tangannya sendiri beliau menentukan tempat didirikannya masjid yang hingga kini senantiasa dikunjungi oleh para jamaah umrah yang tengah berada di kota Madinah.

Setelah hijrah ke Madinah, rasulullah sering mengunjungi Masjid Quba’ untuk shalat sunnah disana; dan beliau biasa memilih hari sabtu untuk menziarahi masjid tersebut.

Beberapa meter mendekati pintu masuk Masjid Quba’ bus kami menepi sejenak. Pintu terbuka dan supir kami yang berasal dari Sudan turun entah kemana. Setelah diperhatikan ternyata ia masuk ke sebuah toko klontong. Para jamaah pun tak kalah penasarannya dan segera mengarahkan pandangan mereka ke arah toko yang sama.

Tak berapa lama kemudian pak supir keluar dari toko kemudian berlari-lari kecil menuju bus sementara di tangannya terdapat sebuah kantong kresek besar berwarna biru.

“Tanis?” ujar saya dalam hati sembari memperhatikan pak supir yang rambutnya berwarna keperakan karena uban.

“Tafadhol” ujarnya seraya membuka kresek. Ia kemudian meminta saya menyampaikan pada para jamaah bahwa tanis ini merupakan hadiah darinya untuk para jamaah.

“Terima kasih pak supir” kata sebagian jamaah sementara sebagian lain mengatakan “Syukron.”

Roti tanis yang bundar dan masih hangat pun diedarkan oleh para muthawwif. Ketika roti yang wangi itu mendarat di tangan salah satu ibu-ibu ia pun heran, “Gede banget, gimana makannya?”

Kami semua tertawa dan muthawwif yang mendampingi saya menjelaskan bahwa para jamaah cukup menyobek roti-roti bundar besar tersebut hingga sebuah roti dapat dinikmati bersama oleh beberapa jamaah.

Sementara muthawwif membagikan roti, pak supir menanyakan apakah kita sudah bisa melanjutkan perjalanan? saya pun mempersilakan pak supir untuk kembali melanjutkan perjalanan.

Pintu bus pun ditutup dan kami melanjutkan perjalanan menuju Masjid Quba’ yang hanya tinggal beberapa meter saja.

Di sebuah pertigaan, bus kami belok ke kanan dan kini di hadapan kami tampaklah sebuah bangunan putih yang memiliki empat buah menara. “Alhamdulillah, bapak ibu sekalian kita sudah tiba di Masjid Quba’. Insya Allah kami beri waktu setengah jam untuk shalat lalu kita berkumpul di tempat yang nanti kami tunjukan.”

“Siaaaappppppppppp” Jawab para jamaah kompak.

1Shahih. HR. Ibnu Majah (no. 1412) dan lainnya. Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas dan Ustadz Mubarok bin Mahfudh Bamualim, Lc dalam Panduan Manasik Haji & Umrah Berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah dan Pemahaman as-Saafush Shalih, hal. 159.

2Shahih. HR. Muslim (no.1399 {516}) dari Abdullah bin Umar. Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas dan Ustadz Mubarok bin Mahfudh Bamualim, Lc dalam Panduan Manasik Haji & Umrah Berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah dan Pemahaman as-Saafush Shalih, hal. 159.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s