Safarnya Wanita

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

 

cruise-ship-oriana.jpg

Di era modern ini tersedia beragam jenis moda transportasi jarak jauh, mulai dari bus antar kota, mobil travel, kereta api, kapal laut, pesawat terbang, hingga taxi. Selain banyak, kendaraan-kendaraan tadi juga menawarkan berbagai kenyamanan seperti makanan, film, serta bacaan. Kendaraan-kendaraan tadi pun membuat waktu safar menjadi jauh berkurang. Kita patut bersyukur pada Allah yang memberi berbagai kemudahan ini.

Kini safar terasa jauh lebih mudah dan lebih nyaman dibanding pada zaman dahulu. Kita tidak lagi harus berjalan kaki, menunggang kuda atau unta, atau berlayar menggunakan kapal layar. Kini tersedia banyak jalan tol yang membuat perjalanan jauh lebih lancar dan rest area sebagai tempat melepas lelah.

Alhamdulillah kemudahan-kemudahan ini juga membantu para wanita yang hendak melakukan perjalanan jauh. Pada dasarnya tidak ada yang melarang seorang wanita untuk pergi jauh selama bersama mahrom. Dasar dari aturan ini dapat kita temui di hadits riwayat Abu Said al-Khudri:

لَا يَحِلُّ لِامْرَعَةٍ تُوْمِنُ بِا اللهِ وَلْيَوْمِ الَاَخِرِ اَنْ تُسَافِرُ سَفَرًا يَكُوْنُ شَلَاشَةَ اَيَّامٍ فَصَاعِدًا اِلَّا وَمَعَهَا اَبُوهَا اَوِبْنُهَا اَوْ زَوْجُهَا اَوْاَخُوْهَا اَوْ ذُوْ مَحْرَمٍ مِنِهَا

Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk mengadakan perjalanan yang memakan waktu selama tiga hari lebih, melainkan ia harus didampingi oleh ayahnya, atau anaknya, atau suaminya, atau saudaranya, atau mahramnya.1

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar juga dijelaskan demikian:

لَا تُسَافِرُ الْمَرْاَةٌ شَلَاشَةا اَيَّامٍ اِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ

Tidak boleh seorang wanita mengadakan perjalanan selama tiga hari, kecuali bersama mahram.2

Demikian pentingnya mahram bagi seorang wanita hingga seorang yang sedang menjalankan wajib militer pun disuruh pulang oleh Rasulullah demi menemani istrinya berhaji; sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas:

لَ يَخْلُوْنَ رَجُلً بِامْرَاَةِ اِلَّا ومَعَهَا ذُوْ مَحْرَمٍ وَ لَا تُسَافِرُ الْمَرعَةُ اِلَّا مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ: اِنَّ امْرَاَتِي خَرَجَتْ حَاجَةً وَ اِنِّي اكْتُتِبْتُ فِيْ غَزْوَةِ كَذَا وَ كَذَا قَلَ: اِنْطَلِقْ فَحُجَّ مَعَ امْرَاَتِكَ

Janganlah sekali-kali seorang laki-laki menyendiri dengan seorang wanita kecuali wanita itu ditemani mahramnya. Dan, jangan pula seorang wanita bepergian kecuali bersama mahram. (Mendengar itu) bangkitlah seorang laki-laki lalu berkata: “Sesungguhnya, istriku telah keluar untuk menjalankan ibadah haji, sedangkan aku telah diwajibkan untuk mengikuti sebuah peperangan.” Beliau bersabda: “Pergilah dan kerjakan haji bersama istrimu.3

Dalam hadits Abu Said Al-Khudri dijelaskan bahwa mahrom bagi seorang wanita adalah ayahnya, putranya yang telah dewasa, saudara kandungnya yang laki-laki (Sama ibu-bapak, beda bapak satu ibu, atau beda ibu satu bapak), dan yang paling utama adalah suaminya bila ia telah menikah. Selain orang-orang di atas, yang termasuk mahrom bagi wanita adalah pamannya (baik kakak maupun adik dari ayah atau ibu), keponakan laki-lakinya yang telah dewasa, kakek, serta orang dari luar keluarga namun waktu kecil pernah disusui oleh ibu kita (minimal tiga kali) hingga kenyang sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits يَحْرُمُ مِنْ الرَّضَاعِ مَا يَحْرُمُ مِنَ النَّسَبِ Diharamkan nikah karena persusuan seperti haramnya karena nasab (kekerabatan).

Setelah merinci laki-laki mana yang boleh menjadi mahrom seorang wanita maka kini kita bahas laki-laki mana yang tidak boleh menjadi mahrom yaitu:

  1. Sepupu laki-laki dewasa. Umumnya di Indonesia seorang saudara sepupu dianggap sebagai adik atau kakak kandung hingga setelah dewasa pun masih sering disentuh tangannya meski beda jenis kelamin. Saudara sepupu bisa menjadi suami atau istri maka mereka bukanlah mahrom, kecuali waktu kecil ia pernah meminum susu ibu kita hingga kenyang minimal tiga kali.
  2. Ipar. Sama seperti sepupu, ipar pun seringkali dianggap mahrom hingga banyak dari kita sering menampakkan aurat di depan mereka dan menyentuh tangan mereka saat bersalaman. Nyatanya ipar bukan mahrom karena jelas ia bukan saudara kita dan tidak pula pernah menyusu pada ibu kita.
  3. Adik atau kakak ketemu gede. Bagi sebagian orang Indonesia hal seperti ini pun seringkali diabaikan hingga kadang ada orang tua yang mengizinkan putrinya pergi ke luar kota bersama pria yang bukan keluarga dan bukan mahrom hanya dengan alasan anaknya dan pria itu telah akrab bagai adik-kakak kandung.
  4. Pacar atau tunangan.

 

Semoga Allah memudahkan para wanita muslimah untuk pergi safar bersama mahromnya.

1Shahih. HR. Muslim (no. 3257) dalam bab “Haji”. Panduan Manasik Haji & Umrah, Ustadz. Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Jakarta: Pustaka Imam Syafii, 2010, hal. 19.

2Shahih. HR. Al-Bukhari (no. 1086). Ibid hal 19.

3Shahih. HR. Al-Bukhari (no. 3006) dan Muslim (no. 3259)

English

Spanish

2 Comments Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s