Sarapan di kota Madinah

 

pigeons

Pagi itu saya dan seorang teman berjalan- jalan di sekitar kota Madinah. Matahari bersinar sangat lembut, saking lembutnya sampai-sampai kehangatannya tidak terasa. Sebaliknya, hawa sejuk kota Nabi justru yang menembus kerudung dan gamis katun, membuat saya merasa agak kedinginan.

Pagi itu kami berdua sengaja melancong agak menjauhi hotel, sekedar ingin mencari sarapan. Biasanya kami membeli makanan di restoran yang banyak terdapat di sekitar hotel tempat tinggal kami selama di Madinah. Kadang cukup masak mie instan di dapur yang terdapat di hotel.

Jalanan yang kami lalui bersih dengan aspalnya yang licin. Langit biru muda dengan riak- riak awan putih memayungi kota. Di sepanjang jalan yang dilalui, kami sering berpapasan dengan jamaah mancanegara; dan pagi itu yang paling banyak kami lihat adalah jamaah Turki. Yang laki- laki kami panggil ‘papa Turki’ dan yang wanita ‘mama Turki’.

Di atas trotoar, beberapa penjual topi berteriak- teriak menjajakan barang dagangannya (yang tentu saja topi).Toko- toko sudah siap menerima kunjungan pembeli. Bertumpuk- tumpuk sajadah disusun rapi di atas meja di pinggir pintu masuk toko. Kami tidak singgah ke toko- toko yang dilewati karena tujuan utama adalah mengisi perut dulu yang mulai meminta haknya.

“Kita coba makan di situ yuk.” Ajak saya sambil menunjuk kesebuah rumah makan. Rumah makan itu tidaklah besar. Bangku- bangku kayu disusun menghadap sebuah meja.Di dalam sudah ada dua orang laki- laki berpakaian gamis yang sedang menyantap makanan. Di balik panci berukuran besar yang mengepulkan uap, seorang laki- laki berpakaian putih, mungkin koki, sedang mengaduk- aduk isi panci, yang kemungkinan besar berisi Kare. Hmmm……….wanginya menggugah selera.

Tapi pagi itu kami lebih memilih menu nasi goreng dengan ayam. Seiring berjalannya waktu, satu persatu pembeli mulai memenuhi rumah makan itu. Rata- rata pengunjung itu memilih menu sarapan mereka berupa roti yang besar sebesar nampan dan semangkok Kare. Kami menengok ke arah pengunjung- pengunjung yang sedang asyik menyantap makanan mereka. Laki- laki di sebelah meja mereka rupanya melihat gerak- gerik kami. “Halal.” Kata laki- laki itu sambil mengangkat roti nampan dan mengarahkan ke hadapan mereka.

Saya dan bu Lilis (nama kawan saya) spontan menggeleng.

“Syukron.” Kata saya sambil menggeleng.

Dapat jawaban ‘syukron’ bukannya meneruskan makannya, malahan laki- laki itu berdiri dari bangkunya menghampiri meja mereka sambil membawa roti nampan yang sudah seperempat bagian disobek.

“Halal. Halal.” Roti nampan itu diletakkan di atas meja dihadapan kami dan laki- laki itu kembali ke bangkunya, meneruskan makannya yang tinggal sedikit lagi.

Kami saling berpandangan sambil tersenyum geli. Mereka sudah kenyang. Mau diapakan roti besar itu? tetap saja ukurannya besar walaupun sebagian sudah sobek.
Tidak lama kemudian, laki-laki di sebelah mereka berdiri meninggalkan bangkunya, membayar makanan dan berlalu ke luar.

“Kita kasih orang saja roti ini.” Bisik saya.

“Iya. Kasih siapa ya?” Kami pun mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan, mencari ‘sasaran’. Nah itu, seorang laki- laki sedang makan sendirian agak ke sudut ruangan.

Kami berdiri menghampiri meja laki- laki yang menjadi target. Kami letakkan roti dihadapan laki- laki yang seketika kebingungan melihat kejadian itu.
“Halal. halal.” Kata saya.

“Ow, syukron.” Syukurlah laki- laki itu menerima pemberian kami dengan wajah ceria.
Saya dan bu Lilis bisa bernafas lega, karena tidak perlu membuang roti nampan itu. Setelah diingat- ingat, selama berada di Mekah maupun di Madinah, sudah beberapa orang yang dengan segera menawarkan makanan pada kami, ketika saya ataupun kawan- kawan memperhatikan makanan yang sedang mereka makan. Begitu ramahnya mereka. Ingin berbagi dengan saudaranya seiman, yang sedang menjadi tamu- tamu Allah. Maka benarlah apa yang disabdakan oleh Rasulullah bersabda,

وَ عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ: طَعَامُ الْاِسْنَيْنِ كَافِ الشَّلَاثَةِ، وَطَعَامُ الشَّلَاثَةِ كافِ اَلْاَرْبَعَة.

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah bersabda, “Makanan dua orang cukup untuk tiga   orang, dan makanan tiga orang cukup untuk empat orang.

Ditulis oleh: Ummu Ryan Mondang Sari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s