Sholat Jenazah

baqee01

Ketika melangkah ke luar dari kamar mandi, hal pertama yang saya lihat adalah kawan sekamar yang ‘tumben’ sudah bangun dan kini sedang duduk di ujung kasur. Kawan itu rupanya sudah bersiap- siap hendak mandi sementara dua kawan sekamar yang lain masih setengah bangun, alias mata masih terpejam tapi indra sudah aktif.

Bu, ke mesjid bareng, ya… saya mandi dulu…” Katanya. Saya mengangguk mengiyakan.

Setelah siap mereka pun menuruni anak tangga hotel sekitar jam empat lewat, satu jam lebih sebelum waktu shalat Shubuh dilaksanakan. Hari itu agak terlambat berangkat ke masjid, biasanya jam 3 dini hari sudah melangkah menuju masjid.

Jalanan sudah ramai dengan para jamaah yang berjalan menuju Masjidil Haram. Mereka bermunculan dari berbagai arah. Yang laki- laki sebagian memakai baju Koko dan celana panjang, sebagian lainnya mengenakan gamis dalam berbagai warna, ada yang Putih, Hitam, Coklat muda dan motif garis- garis. Jamaah wanitanya sebagian besar memakai Jilbab panjang dan sebagian memakai Mukenah. Yang memakai Mukenah biasanya jamaah dari Indonesia.

Halaman depan Masjidil Haram sudah padat dengan jamaah yang akan masuk ke dalam masjid. Beberapa pintu sudah tidak boleh dilewati para jamaah, karena ruang dalam masjid yang melalui pintu tersebut sudah padat. Jika sudah begitu, maka jamaah harus mencari pintu yang masih boleh dilewati atau naik ke lantai dua menggunakan eskalator.

Di depan ambang pintu Masjidil Haram yang lebar dan tinggi, Saya mengajak tiga kawan sekamar berhenti sebentar. “Mba, sebelum masuk ke dalam masjid, kita baca do’a dulu, ya…” Kata saya seraya mengeluarkan kertas yang berisi do’a- do’a dan bersama mereka membaca do’a mau masuk masjid.
بِسْمِ اللهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ، اَللّٰهُمَّ افْتَحْ لِيْ أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

Dengan nama Allah, semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada Rasulullah. Ya Allah, bukakan pintu-pintu rahmat-Mu untukku.

Saya dan kawan-kawan beruntung masih diperbolehkan masuk, tapi di dalam masjid kami masih harus berjuang mencari- cari celah untuk bisa duduk diantara jamaah lainnya yang sudah lebih dulu datang.
Banyak jamaah yang pelit untuk berbagi tempat walaupun sebenarnya masih bisa muat untuk satu orang. Tapi tidak sedikit juga yang bermurah hati mau memberikan sedikit ruang untuk jamaah yang baru datang.

Selesai melaksanakan shalat Shubuh berjamaah, ada pengumuman dalam bahasa Arab, bahwa akan dilakukan shalat jenazah.

Mbak, kita shalat jenazah dulu, ya.” Kata saya pada seorang kawan yang paling muda dan paling bersemangat mendalami agama.

Kayak gimana shalat jenazah?” Tanyanya pelan.

Shalatnya hanya berdiri dan bertakbir, enggak pakai ruku, enggak pakai sujud. Kalau belum tahu apa yang dibaca, nanti ikuti saja imam. Kalau imam bertakbir, kita bertakbir juga. Waktu imam membaca do’a, diam dan dengarkan saja…

Keutamaan shalat jenazah sendiri telah disampaikan oleh Rasulullah dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah,

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

مَنْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهَا فَلَهُ قِيْرَاطٌ وَمَنْ شَهِدَهَا حَتَّى تُدْفَنَ فَلَهُ قِيْرَاطَانِ قِيْلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Siapa yang turut menyaksikan pengurusan jenazah hingga ia mensholatinya, maka baginya pahala sebesar satu qirath. Sedangkan siapa yang turut menyaksikan pengurusannya hingga jenazah itu dimakamkan, maka baginya pahala sebesar dua qirath. Lalu ditanyakanlah, Apakah itu dua qirath? beliau menjawab: Seperti dua gunung yang besar.

Ditulis oleh: Ummu Ryan Mondang Saribaqee01

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s