Sholat Isyroq

masjidil haram bagian dalamLangit kini menjadi cerah. Kedatangan matahari menjadikan langit menjadi putih setelah sebelumnya berwarna keabu-abuan dengan rembulan yang semakin bersembunyi. Burung-burung merpati gemuk berwarna putih bertengger asyik di atas kipas-kipas bundar berwarna putih yang menempel di tiang ring thawaf.

Alhamdulillah saya telah menyelesaikan putaran ketujuh dan dengan terbitnya mentari maka hati ini pun ingin untuk melanjutkannya dengan dua rakaat sholat syuruq. Siapa yang tidak ingin berdzikir dan sholat dua rakaat namun mendapatkan pahala yang sama dengan pahala umroh. Tidak perlu lagi berihram dan tidak perlu pula mengambil miqat di Tan’im atau Ji’ronah. Bukankah Rasulullah telah menyampaikan hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم– « مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ ». قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– « تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ

Barangsiapa yang shalat Shubuh berjama’ah lalu duduk berdzikir kepada Allah sampai Matahari terbit, kemudian shalat dua rakaat, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah sempurna, sempurna, sempurna.” (HR. At- Tirmidzi dan dihasankan oleh syaikh Al- Albani).

Alhamdulillah…itu ada tempat.” Pandangan saya tertuju pada sebuah spot kosong diantara orang-orang berihram yang tengah berdoa sambil menghadap Ka’bah. Pandangan mereka tidak kemana-mana kecuali memandangi Baitullah dengan air mata bercucuran. Terdengar lantunan permohonan yang diucapkan dengan tidak jelas karena siapapun paham bila mereka tengah memohon dengan sungguh-sungguh terhadap Tuhan pemilik Ka’bah. Di tempat inilah saya sholat kemudian berdoa, memohon banyak hal yang saya yakin hanya dapat dipenuhi oleh Allah Jalla wa A’la.

Sesaat kemudian, orang-orang berihram tadi pergi entah kemana, meninggalkan saya sendiri di atas marmer putih Masjidil Haram yang terasa dingin. Sekitar sepuluh meter di hadapan saya tampak jelas kerumunan manusia yang mengelilingi Ka’bah dengan kecepatan konstan. Mereka berjalan dengan kaki masing-masing dan sering kali antara tubuh dengan tubuh terjadi benturan. Belum lagi bila ada yang ngotot thawaf dengan kursi roda di lantai bawah. Memasuki lingkaran ini akan membuat kita berjalan kadang cepat kadang lambat. Kadang ditabrak kadang menabrak. Namun dilihat dari luar, semua langkah kaki itu tampak harmonis dan kompak hingga serupa dengan planet-planet yang bergerak di sumbunya secara teratur.

Jauh di atas orang-orang yang tengah thawaf, beberapa ekor burung turut mengitari Baitullah dengan sayap-sayap terbentang. Suara mereka yang merdu lama-kelamaan disusul oleh bunyi bising yang datang dari crane-crane warna kuning atau hijau yang berdiri di luar Masjidil Haram. Tampaknya para pekerja berseragam biru muda telah memulai kembali aktifitas mereka.

Saya pun menoleh pada jam raksasa di samping dan ternyata memang sudah saatnya kembali ke hotel karena hari ini kami akan ziarah luar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s