Mencium Hajar Aswad pakai jasa Joki

عَنْ أَبِيْ سَعِيْدِ سَعَدُبْنِ سِنَانِ الْخَدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنهُ أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ قَالَ: لاَ ضَرَرَ وَ لاَ ضِرَارَ

“Dari Abu Sa’id Sa’ad bin Sinan Al-Khudri, bahwasanya Rasulullah bersabda, “Tidak boleh melakukan perbuatan (mudharat) yang mencelakakan diri sendiri dan orang lain.”1

thawaf-di-masjidil-haram  Joki tidak hanya ada pada saat diadakannya ujian masuk perguruan tinggi negeri, sebagaimana yang banyak terjadi selama ini. Tugasnya adalah menggantikan posisi peserta test (tentunya tanpa sepengetahuan panitia) dan mengerjakan soal- soal yang diberikan. Tapi joki juga ada bahkan lumayan banyak bertebaran di plataran Ka’bah, tengok sana tengok sini mencari jamaah. yang akan dijadikan target sasaran.

Tidak sedikit jamaah yang baru pulang menunaikan ibadah haji, bercerita tentang kejadian ‘istimewa’ yang mereka alami.
Waktu itu saya baru selesai tawaf, pengen banget mencium Hajar Aswad… eh tiba- tiba ada orang yang menarik tangan saya dan saya diajak menuju Hajar Aswad…alhamdulillah saya bisa mencium Hajar Aswad.” Begitu salah satu kisah yang dialami seorang jamaah.

Dan kejadian yang dialami para jamaah lain pun terjadi pula pada diri saya; sama- sama didatangi seseorang dan ditarik tangannya untuk mencium Hajar Aswad.

Di halaman tempat Ka’bah berdiri tegak, beberapa orang laki-laki asal Indonesia pasang mata, pasang telinga, mencari- cari tahu siapa yang ngotot mau mencium Hajar Aswad. Mereka seakan sudah paham betul wajah-wajah jamaah yang ngotot, kudu, wajib, mencium Hajar Aswad. Mereka mengerti betul bahwa para jamaah haji mempunyai paham atau prinsip, bahwa jauh- jauh datang ke Mekkah, rasanya tidak afdhol kalau tidak mencium Hajar Aswad. Merupakan kebanggaan dan prestasi tersendiri jika pulang ke tengah- tengah keluarga dan kerabat, bisa mengucapkan: “Alhamdulillah, saya sudah mencium Hajar Aswad.” Kesempatan itu tentunya tidak disia- siakan para ‘Joki’. Panen Riyal menanti di depan mata selama musim haji.

Siapa yang tidak ingin mencium Hajar Aswad? Rasanya semua jamaah atau 99% diantaranya ingin mencium. Tapi kalau untuk dapat melakukannya harus melalui cara- cara yang dilarang, untuk apa? jangan memaksakan diri, terutama jamaah wanita. Cara- cara yang dilarang bagaimana sih? agar ‘klien’ nya bisa mencium Hajar Aswad, maka para Joki itu saling kerja sama. Joki yang satu menggandeng bahkan merangkul bahu ‘klien’ nya yang merupakan seorang wanita, Joki yang lainnya melindungi di kiri kanan sambil merentangkan tangan melindungi ‘klien’ dari sergapan jamaah lain. Kadang para Joki menyikut, mendesak para jamaah lain untuk mendapatkan jalan.

Pada musim haji tahun 2005 yang lalu, saya baru saja menyelesaikan putaran ke tujuh Tawaf. Hati ini tergerak hendak mencium Hajar Aswad namun demi melihat padatnya areal seputar Hajar Aswad, saya pun mengurungkan niat. Kaki saya melangkah hendak menuju ke tepi pelataran Ka’bah, mencari tempat untuk mengerjakan shalat sunnah 2 rakaat di belakang Maqam Ibrahim.

Belum lagi jauh berjalan, tubuh saya terdorong dengan kuat dan tiba- tiba saja saya sudah berada di tengah- tengah jamaah laki- laki dengan postur tubuh yang tinggi- tinggi besar. Tubuh saya yang kecil tenggelam sebatas ketiak jamaah yang besar- besar itu. Nafas sesak kekurangan udara. Saat itu yang saya bisa lakukan hanya berdo’a meminta pertolongan pada pemilik Ka’bah, Allah. Wajah ditengadahkan ke atas berharap mendapat asupan udara yang lebih banyak untuk menghilangkan sesak. Mata penuh harap menatap bagian atap Ka’bah. Tiba- tiba himpitan melonggar dan saya dapat bernafas dengan leluasa.

Apa yang saya lihat setelah lepas dari jepitan para raksasa? Seorang laki-laki asal Indonesia sedang merentangkan tangan agar jamaah lain tidak mengganggu ‘klien’ nya yang sedang melenggang menuju Hajar Aswad. Ternyata gerakan dan dorongan para Joki itu yang membuat tubuh saya terdorong ke tengah- tengah kerumunan jamaah tinggi besar.

Begitulah kerja para Joki itu, mereka tidak peduli jamaah lain mengalami hal yang menyakitkan, bagi mereka ‘klien’ harus diservice, karena Riyal menanti.

Ditulis oleh: Ummu Ryan Mondang Sari

1Hadits hasan diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Ad-Daruquthni dan lainnya secara musnad. Dan diriwayatkan pula oleh Malik dalam Al-Muwaththa’ secara mursal dari Amru bin Yahya dari ayahnya dari Nabi sehingga dia menggugurkan Abu Sa’id. Namun hadits ni memiliki banyak jalur yang saling menguatkan satu sama lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s