Dari Ketinggian Seribu Kaki

bird_migrationبِسمِ الله الرّحمٰنِ الرّ حِيمِ

Alhamdulillah, setelah lebih dari sembilan jam mengudara akhirnya pesawat kami akan segera mendarat di Bandara Internasional King Abdul Aziz Jeddah. Dari seantero speakter terdengar suara wanita yang meminta para penumpang untuk kembali ke tempat duduk masing-masing dan mengencangkan ikat pinggang mereka. “Sandaran bangku harap ditegakkan dan penutup jendela dibuka” sementara si wanita memberikan instruksi lewat pengeras suara, beberapa orang rekannya melintas di jalan kecil antara dua barisan bangku. Masing-masing menoleh ke kanan dan kiri untuk memeriksa apakah para penumpang telah menjalakan instruksi tersebut. “Ibu ikat pinggangnya sudah dikencangkan?” tanya salah satunya pada seorang nenek yang segera sadar bahwa ia belum mengikat ikat pinggangnya sama sekali.

Beberapa saat kemudian para pramugari tadi pun kembali ke tempat duduk masing-masing, duduk dengan tegak serta memasang tali pengaman dengan cara yang amat disipin. Di balik keanggunan mereka tampak sikap disiplin yang didapat dari pelatihan yang intensif.

Tak lama kemudian pesawat kami mengurangi kecepatannya hingga timbul rasa geli yang ganjil di bagian perut, persis yang dialami orang saat naik roller coaster. Dari jendela kecil saya melihat sebuah pintu kecil di bagian sayap pesawat terbuka dan tampak hembusan angin warna putih yang kencang terbelah dua akibat menabrak bagian tadi. Rupanya pintu itu semacam rem yang menempel di pesawat.

Pemandangan pun berganti. Dari kumpulan awan yang masing-masing memiliki bentuk yang khas menjadi sebuah gambaran jelas di atas bumi. Langit biru nan sunyi yang menjadikan pesawat ini bagai seorang pengembara di jalan yang sepi pun berganti warna hijau Laut Merah yang mengingatkan kita akan brosur-brosur cottage pinggir pantai. Semakin pesawat merendah semakin tampak pula pemandangan-pemandangan lain yang menegaskan bahwa kita tidak lagi di langit sunyi. Kapal-kapal tanker tampak berjalan amat lambat di laut sementara hembusan busa warna putih terus mengekor di belakang. Lucu, kapa-kapal yang di deknya terlihat peti-peti kemas itu tampak seperti siput yang menggunakan nitro dalam sebuah balapan. Dari arah yang lain tampak kapal-kapal boat kecil yang melaju kencang di areal yang tidak terlalu jauh dari pantai. Mereka bagaikan semut-semut degil yang saling mengejar di atas mobil formula one.

Pesawat kembali memutar dan jendela kecil pun kembali menyuguhkan pemandangan yang berbeda. Kali ini tampak mobil-mobil yang melaju di jalan sementara di kiri kanan tampak gedung putih yang berjejer. Sesekali tampak lapangan bola atau gudang penyimpanan alat-alat berat dengan traktor-traktor warna kuning. Semua pemandangan itu saling berganti hingga akhirnya kami melihat dengan jelas landasan-landasan pacu warna abu-abu diantara kuning keemasan pasir Arab. Tenda-tenda raksasa warna putih pun telah menampakkan wajahnya seolah menanti para jamaah umroh. Alhamdulillah kami telah tiba di Jeddah.

Ketika ban pesawat menyentuh landasan, maka timbul sebuah hentakan ringan yang diikuti bunyi kencang yang hanya dapat didengar ketika kita mengendarai mobil dengan kecepatan diatas 120 km/jam. Kencang, mendorong, dan sedikit berguncang. Meskipun demikian hati saya merasa lega dengan adanya guncangan tadi. Lega karena akhirnya bisa meluruskan badan dan lega bahwa Allah begitu baik pada saya karena berkali-kali menjadikan hambanya ini merasakan terbang sembilan jam dari Jakarta menuju Tanah Suci Makkah Al-Mukarromah dan Madinah Al-Munawwarah. Terbayang dalam pikiran, apa jadinya bila setiap bulan saya membimbing para jamaah menggunakan kapal layar atau kapal uap sebagaimana para kakek buyut dulu?

Burung dan Pesawat

Mahasuci Allah yang menciptakan seluruh makhluk dengan keunikannya masing-masing. Ia menciptakan hewan yang hidup di darat, air, dan udara dengan anggota tubuh yang sesuai tempatnya. Ia menciptakan empat kaki dan mata di samping bagi hewan-hewan herbivora seperti kancil dan kerbau agar dapat mengawasi predator yang tengah bersembunyi di suatu tempat; Siap untuk menjadikannya santap malam. Sebaliknya bagi hewan karnivora macam singa, sang predator juga memiliki empat kaki namun disana terdapat kuku-kuku yang sangat tajam untuk mencabik sementara sepasang matanya berada di bagian depan kepala hingga membuatnya lebih fokus dalam mengejar mangsa. Itu baru singa dan kerbau. Lalu bagaimana dengan kaki bersirip katak dan bebek? Bayangkan bila diantara sela-sela jarinya tidak ada sirip maka mereka tak mungkin dapat mendayung di air. Perhatikan pula bulu angsa yang tak pernah basah meski kepalanya acapkali menyelam untuk memburu ikan yang lewat di bawahnya? Andai Allah tidak memberikan sebuah cairan anti basah dari bagian belakang tubuhnya maka angsa akan masuk angin dan tampangnya selalu murung karena bolak-balik terendam air.

Gambaran di benak saya pun berpindah pada burung-burung camar warna putih yang tengah bermigrasi tiap pergantian musim. Mereka terbang dalam kawanan raksasa yang semuanya berwarna putih. Selesai mengisi perut mereka pun terbang bersama melintasi separuh bumi untuk bermigrasi ke tempat yang lebih hangat. Mereka terus terbang dan bahkan dapat tidur sembari terus mengepakkan sayapnya. Mereka terbang bersama sepanjang puluhan ribu mil tanpa ada yang saling bertabrakan. Tua dan muda, setiap burung camar yang telah mampu untuk terbang ikut serta dalam perjalanan yang luar biasa ini. Mahasuci Allah yang membekali burung kemampuan untuk terbang tanpa harus mengikuti berbagai macam sekolah. Seekor anak burung baru terbang meninggalkan sarangnya pada usia yang memang semestinya. Sang induk pun dengan tekun melatih dan mengawasi burung-burung belia ini hingga dapat terbang dengan layak. Semua proses ini tidak menghabiskan waktu yang terlalu lama dan tidak ada evolusi. Tidak pula ada pengeluaran biaya yang besar sebagaimana biaya masuk sekolah yang harus dikeluarkan oleh manusia. Lantas bagaimana burung mampu mendapatkan semua ini? Bukankah Allah telah menjelaskan pada kita di surat Al-Mulk ayat 19?

أَوَ لَمْ يَرَوْا إلَى الطَّيْرِ فَوْقَهُمْ صٰفَّتٍ وَ يَقْبِضْنَ مَا يُمْسِكُهُنَّ إلّا الرَّحْمٰنُ إنَّهُ بِكُلِّ شَىْءِ بَصِيْرٌ

Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pengasih. Sungguh Dia Maha Melihat segala sesuatu.

Ternyata memang benar bahwa banyak diantara manusia yang enggan untuk memperhatikan berbagai tanda kekuasaan Allah yang tersebar di seluruh penjuru dunia seolah semua itu bukan apa-apa. Tidakkah kita coba renungkan perbandingan antara pesawat dan burung yang sama-sama bepergian dalam jarak 10.000 kilometer?1 Burung-burung yang bermigrasi menempuh jarak yang demikian jauh itu dengan kecepatan 2700 km/jam sementara jarak antara mereka dengan daratan adalah sekitar 1500 meter tanpa adanya alat yang melindungi mereka dari terpaan angin, hujan, maupun sinar matahari. Di sisi lain, manusia tidak mungkin terbang dengan pesawat yang tidak memiliki dinding dan atap.

Kini bayangan saya berpindah ke buku mitologi Yunani kuno tentang Ikarus dan Dedalion; dua orang yang menghabiskan waktunya untuk membuat sayap. Mereka memang sempat terbang namun tidak tinggi dan untuk membuat sepasang sayap yang menerbangkan mereka beberapa meter dari tanah saja dibutuhkan malam tanpa tidur dan keletihan luar biasa akibat memeras otak. Beberapa abad setelah Ikarus muncul pula gagasan yang sama dalam benak seorang penemu muslim Andalusia yang bernama Abbas bin Firnas. Ia pernah mengalami patah punggung setelah terbang beberapa saat dari atas sebuah gedung yang tinggi. Sepasang sayap buatannya memang mampu menopang tubuhnya di udara untuk beberapa saat namun demikian ia segera terpelanting akibat tidak adanya kestabilan sebagaimana burung memiliki ekor yang diatara fungsinya adalah mengatur keseimbangan dan rem.

Setiap orang berupaya dengan gigih untuk terbang, menghabiskan biaya dan waktu yang tidak sedikit serta teknologi paling mutakhir yang dimiliki orang pada abadnya. Generasi datang dan berganti sementara manusia terus berusaha untuk terbang hingga akhirnya Wright bersaudara berhasil menciptakan sebuah pesawat terbang yang dianggap paling stabil pada masanya. Setelah masa Wright bersaudara, teknologi penerbangan pun terus berinovasi hingga lahirlah pesawat-pesawat modern yang biasa kita tumpangi saat berlayar di udara. Pertanyaannya mengapa pesawat yang stabil baru muncul beberapa abad setelah Ikarus atau Abbas bin Firnas? Bukankah mereka yang lebih dahulu mengadakan eksperimen daripada Wright bersaudara? Jawabannya adalah takdir Allah, sebagaimana nasihat yang rasulullah tujukan pada Abdullah bin Abbas,

كُنْتُ خَلَفَ رَسُلُوْ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَوْمًا فَقَلَ لِي: يَا غُلَمُ، إِنِّ أُعَلِمُكَ كَلِمَاتٍ: اِحْفَظِ الله يَحْفَظْكَ، اِحْفَظِ الله تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ الله، وَ اِذَا اسْتَعَنْتَ فَسْتَعِنْ بِ اللهِ، وَاعْلَمُ أَنَّ الَاُمَّةَ لَوِجْتَمَعَتْ عَلَى اَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُكَ إَلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَ اللهُ لَكَ. وَلَوِجْتَمَعُوْا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُوْكَ إَلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَ اللهُ عَلَيْكَ. رُفِعَتِ الأَقْلَامُ وَ جَفًّتِ الصُّحُفُ.

Pada suatu hari aku pernah berada di belakang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, lalu beliau berkata kepadaku: “Wahai anak kecil. Sesungguhnya aku akan ajarkan kepadamu beberapa kalimat; jagalah Allah maka Dia akan menjagamu, jagalah Allah niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu, apabila engkau meminta maka mintalah hanya kepada Allah, dan apabila engkau memohon pertolongan maka mohonlah kepada Allah semata. Ketahuilah, bahwasanya apabila umat ini berkumpul untuk memberikan suatu manfaat kepadamu maka mereka tidak akan bisa melakukannya sedikitpun kecuali dengan apa yang telah Allah tuliskan untukmu. Dan seandainya mereka bberkumpul untuk menimpakan suatu bahaya kepadamu maka mereka tidak dapat melakukannya sedikitpun kecuali dengan sesuatu yang telah Allah gariskan untukmu. Pena-pena telah diangkat dan catatan (takdir) telah kering.

Ditulis oleh: Abu Iysa Ryan Mayer

1Scientific Miracles In The Oceans And Animals, hal.132. Ahmad, Al-Hajj Yusuf. Riyadh: Maktaba Dar-us-Salam, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s